Permintaan masif komponen untuk pusat data kecerdasan buatan (AI) dilaporkan telah memicu lonjakan harga perangkat PC dan melumpuhkan pasar rakitan secara global pada Senin (11/5/2026). Fenomena ini memaksa konsumen menunda pemutakhiran perangkat akibat mahalnya harga RAM dan komponen pendukung lainnya.
Penurunan tajam dalam proyeksi pengiriman motherboard dirasakan oleh empat produsen raksasa asal Taiwan sejak akhir tahun lalu sebagaimana dilansir dari Detik iNET. Asus diperkirakan hanya mampu menjual 10 juta unit tahun ini, merosot 30 persen dari angka 15 juta unit pada tahun 2025.
Kondisi serupa dialami oleh Gigabyte dan MSI yang memprediksi penurunan penjualan masing-masing sebesar 25 persen. Gigabyte memproyeksikan penjualan sekitar 8 hingga 8,5 juta unit, sementara MSI memperkirakan angka pengiriman turun dari 11 juta menjadi 8,4 juta unit pada tahun 2026.
| Produsen | Penjualan Sebelumnya | Proyeksi 2026 | Estimasi Penurunan |
|---|---|---|---|
| Asus | 15 Juta Unit | 10 Juta Unit | 30% |
| Asrock | 4,4 Juta Unit | 2,7 Juta Unit | 38% |
| Gigabyte | 11,5 Juta Unit | 8-8,5 Juta Unit | 25% |
| MSI | 11 Juta Unit | 8,4 Juta Unit | 25% |
Pembangunan pusat data AI telah menyerap sebagian besar kapasitas produksi memori dunia sehingga harga RAM DDR5 melonjak drastis. Situasi ini berdampak langsung pada rendahnya penjualan CPU generasi terbaru yang membutuhkan standar memori tersebut serta menyeret turun penjualan motherboard bersoket AM5.
Krisis ini juga meluas ke sektor konsol game dengan penundaan peluncuran Steam Machine dari Valve dan rencana kenaikan harga Nintendo Switch 2 pada September mendatang. Bahkan, Apple terpaksa menaikkan harga lini produk Mac karena kelangkaan memori dan tingginya permintaan Mac mini dari kalangan pengembang AI.
Nvidia dilaporkan membatalkan peluncuran kartu grafis seri RTX 50 Super akibat terbatasnya pasokan memori GDDR di pasar global. Hal ini semakin mengurangi minat pengguna untuk melakukan pemutakhiran perangkat PC tradisional dalam waktu dekat.
AMD memperkirakan bahwa pendapatan dari sektor gaming berpotensi merosot hingga 20 persen pada paruh kedua tahun 2026. Penurunan pendapatan ini menjadi dampak langsung dari kekacauan siklus belanja perangkat keras yang dipicu oleh dominasi kebutuhan sektor AI.