BMKG Terbitkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Jabodetabek 23-24 April 2026

BMKG Terbitkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Jabodetabek 23-24 April 2026
Foto: Ilustrasi BMKG Terbitkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem Jabodetabek 23-24 April 2026.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi adanya potensi cuaca ekstrem yang akan melanda wilayah Jabodetabek. Peringatan dini ini berlaku untuk periode Kamis dan Jumat, 23 hingga 24 April 2026.

Dilansir dari Kompas, sejumlah kawasan di sekitar Ibu Kota diprediksi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. BMKG memberlakukan status kewaspadaan yang berbeda, mulai dari tingkat waspada hingga siaga di titik-titik tertentu.

Pada Kamis, 23 April 2026, status waspada ditetapkan untuk wilayah Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang. Kondisi serupa juga diprediksi terjadi di Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, serta Kota Depok.

Peringatan lebih serius diberikan untuk wilayah Kabupaten Bogor yang menyandang status siaga. Kawasan ini berpotensi diguyur hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang dapat memicu dampak signifikan bagi penduduk setempat.

Selain curah hujan tinggi, ancaman angin kencang juga menghantui wilayah Kota dan Kabupaten Bogor. BMKG meminta masyarakat di area tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap perubahan cuaca mendadak yang berisiko merusak infrastruktur.

Memasuki Jumat, 24 April 2026, cakupan wilayah yang terdampak hujan diprediksi mengalami pergeseran. Status waspada hujan sedang hingga lebat tetap berlaku untuk Kabupaten Bogor, Kota Depok, Kota Tangerang Selatan, dan Kabupaten Tangerang.

Meskipun potensi hujan masih ada, BMKG mencatat tidak ada wilayah yang masuk dalam kategori siaga maupun awas pada hari Jumat. Peringatan khusus mengenai potensi angin kencang juga tidak terdeteksi pada periode tersebut.

Fenomena hujan lebat ini diperkirakan dapat memicu berbagai dampak hidrometeorologi. Masyarakat diimbau mewaspadai munculnya genangan air, luapan aliran sungai, hingga risiko tanah longsor yang dapat menghambat mobilitas harian.

Pada wilayah berstatus siaga, risiko dapat meningkat menjadi banjir besar atau banjir bandang yang merusak fasilitas publik. Koordinasi antar instansi dan langkah antisipasi dini sangat diperlukan untuk menekan risiko kerugian materiil maupun korban jiwa.

BMKG menyarankan warga Jabodetabek untuk terus memantau perkembangan cuaca, terutama pada waktu siang hingga malam hari. Langkah mitigasi mandiri perlu dipersiapkan mengingat perubahan cuaca ekstrem di wilayah tropis sering kali terjadi dalam waktu singkat.

Artikel terkait

Rekomendasi