Sejumlah pedagang siomay di Jakarta Barat membagikan cara membedakan produk berbahan ikan tenggiri dengan ikan sapu-sapu pada Senin (20/4/2026). Langkah ini dilakukan guna mengedukasi masyarakat agar lebih teliti dalam membeli jajanan menyusul maraknya isu penggunaan bahan baku yang tidak layak.
Perbedaan mencolok antara kedua jenis bahan baku tersebut dapat diidentifikasi melalui visual, tekstur, dan aroma. Berdasarkan laporan dari Megapolitan, siomay yang menggunakan daging tenggiri murni atau campuran ikan berkualitas tinggi umumnya memiliki tampilan warna yang lebih terang dan cerah.
Angga, seorang pedagang siomay di Kemanggisan, Palmerah, menjelaskan bahwa penggunaan ikan tenggiri dan tuna akan menghasilkan daging siomay yang berwarna agak putih dan memiliki tekstur empuk saat dikonsumsi.
"Kalau saya itu kerja juga, ada bos nya di PIK, ini pakainya tenggiri sama tuna, tuh, dagingnya cerah warnanya agak putih, empuk ini dijamin," kata Angga, pedagang siomay.
Selain faktor warna, kualitas daging ikan sapu-sapu disebut akan terasa berbeda ketika dikunyah karena teksturnya cenderung lebih alot serta mengeluarkan aroma amis yang lebih tajam dibandingkan ikan laut berkualitas.
"Siomay yang pakai sapu-sapu biasanya lebih alot, keras, lebih amis juga," jelas Angga.
Penjelasan tersebut didukung oleh Angga yang menyebut penggunaan ikan tuna sebagai campuran tetap dapat menjaga kualitas rasa layaknya siomay kelas atas.
"Kalau setahu saya pakai tuna itu enggak ngubah rasanya. Kalau pakai tuna itu rasanya tetap enak, kayak siomay yang mahal-mahal biasanya," ucap Angga.
Sementara itu, Wandi, pedagang siomay di Cengkareng yang telah berjualan selama 25 tahun, mengungkapkan bahwa siomay berbahan sapu-sapu memiliki ciri khas lengket saat dipegang atau digigit.
"Kalau saya tuh dulu ikut bos, dia dagingnya tenggiri. Saya tahu itu pakainya tenggiri, soalnya beda dia rasanya kentara, terus enggak lengket, kalau sapu-sapu pasti agak lengket," ucap Wandi, pedagang siomay.
Wandi memaparkan adanya oknum pedagang yang nekat menggunakan ikan sapu-sapu liar demi mendapatkan keuntungan lebih besar dengan menekan modal produksi.
"Ada lah udah enggak usah saya rahasiakan juga semua orang pasti udah tahu, ya memang ada aja sih yang kayak begitu, tapi saya enggak ya," ungkap Wandi.
Faktor ekonomi menjadi alasan utama karena selisih harga antara ikan sapu-sapu dan ikan tenggiri di pasaran sangat jauh, di mana harga tenggiri dapat mencapai Rp100.000.
"Kalau pakai sapu-sapu itu saya pernah tahu ada yang jual Rp 25.000 atau Rp 35.000 gitu. Kalau ikan tenggiri itu dia bisa sampai hampir Rp 100.000. Lumayan kan (selisihnya)," kata Wandi.
Sebagai solusi menghadapi kenaikan harga bahan baku, para pedagang biasanya menyiasati dengan mencampur daging tenggiri menggunakan tepung atau daging ayam agar harga tetap terjangkau namun tetap aman dikonsumsi.
"Kalau sekarang ya enggak 100 persen tenggiri juga sih. Dicampur kan pakai tepung, terus pernah juga nyoba dicampur daging ayam. Tapi kalau pakai sapu-sapu alhamdulillah saya enggak pernah," kata Wandi.