KH Muhammad Qosim Thoifur Mawardi menekankan pentingnya kesungguhan orang tua dalam memberikan pendidikan agama dan adab bagi masa depan anak. Hal tersebut disampaikan dalam pengajian Haflah Akhirussanah di Masjid Al-Mubarok, Desa Bener, Purworejo, pada Minggu (19/4/2026), sebagaimana dilansir dari Cahaya.
Putra ulama karismatik KH Thoifur Kedungsari ini menjelaskan bahwa pembentukan pribadi anak yang baik tidak terlepas dari perjuangan ayah dan ibu secara keseluruhan. Pendidikan tidak boleh dipandang sebelah mata karena berkaitan dengan arah kehidupan generasi mendatang.
"Anak yang baik lahir dari didikan yang baik. Orang tua memiliki tanggung jawab besar terhadap arah kehidupan anaknya," ujar KH Muhammad Qosim Thoifur Mawardi.
Ia menegaskan bahwa setiap anak yang lahir merupakan investasi jangka panjang bagi orang tua. Keberhasilan mendidik mereka akan menjadi penentu keselamatan wali murid tersebut, baik saat di dunia maupun di akhirat kelak.
Dalam kegiatan yang dirangkaikan dengan Haul KH Chotib tersebut, KH Qosim turut menjelaskan makna tradisi peringatan wafatnya ulama yang disertai khataman Al-Qur'an. Baginya, momentum ini merupakan cara menyambung nilai kebaikan dari para guru kepada generasi selanjutnya.
"Setiap anak saleh pasti ada gurunya. Maka Haul ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus pengingat bahwa ilmu itu bersambung dari generasi ke generasi," jelas KH Qosim.
Menurutnya, pelestarian tradisi tersebut berfungsi untuk menghidupkan teladan para ulama terdahulu. Hubungan spiritual antara murid dan guru tetap harus dijaga meskipun raga sudah tidak lagi berada di alam yang sama.
Pendidikan di lingkungan keluarga menjadi sorotan utama dalam tausiyahnya. KH Qosim mengingatkan bahwa kewajiban utama orang tua bukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan logistik, melainkan juga membekali anak dengan nilai-nilai moral yang kuat.
"Memberi makan saja tidak cukup. Anak harus dibekali ilmu, agama, dan adab. Itu yang akan menjadi bekal hidupnya," tegas KH Qosim.
Mengenai pilihan lembaga pendidikan, ia menyatakan bahwa mengirim anak ke pesantren bukanlah sebuah kewajiban mutlak. Namun, orang tua wajib memastikan anak mendapatkan akses pendidikan yang layak untuk membentuk karakter mereka.
"Kalau orang tua tidak mampu mendidik sendiri secara maksimal, maka memondokkan anak menjadi pilihan yang sangat baik. Pesantren bisa menjadi tempat membentuk karakter dan akhlak anak," kata KH Qosim.
Kewajiban menuntut ilmu bagi anak tetap berada di bawah tanggung jawab orang tua sehingga mereka tidak boleh lepas tangan. Acara kemudian ditutup dengan permohonan doa bagi para santri yang mengikuti prosesi khataman tersebut.
"Semoga anak-anak kita menjadi anak yang membawa keberkahan, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi kedua orang tuanya," pungkas KH Qosim.