Nyeri Punggung Mengintai Usia 30-an Akibat Kebiasaan Sehari-hari

Nyeri Punggung Mengintai Usia 30-an Akibat Kebiasaan Sehari-hari
Foto: Ilustrasi Nyeri Punggung Mengintai Usia 30-an Akibat Kebiasaan Sehari-hari.

Banyak orang mulai merasakan perubahan pada tubuh saat memasuki usia 30-an, salah satunya adalah munculnya rasa nyeri pada punggung.

Keluhan tersebut dapat timbul secara mendadak, mulai dari rasa pegal ringan akibat duduk terlalu lama hingga nyeri menusuk yang mengganggu aktivitas sehari-hari.

Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 35 persen individu berusia 30 hingga 44 tahun mengalami gangguan ini.

Fisioterapis asal San Francisco, Claire Morrow, PT, DPT, menerangkan bahwa nyeri punggung pada kelompok usia ini umumnya bukan disebabkan oleh kerusakan tubuh permanen, seperti dilansir dari Lifestyle.

ÔÇ£Pada sebagian besar kasus, nyeri punggung di usia 30-an bukan pertanda tubuh kamu rusak. Ini sering kali berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari yang dapat diperbaiki,ÔÇØ kata Morrow.

Perubahan ritme hidup yang disertai peningkatan tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab keluarga membuat waktu untuk bergerak menjadi semakin berkurang.

Kondisi ini memicu gaya hidup sedentari, di mana tubuh berada dalam posisi duduk berjam-jam di depan laptop atau berkendara tanpa disadari.

Dokter spesialis rehabilitasi medik, April Fetzer, DO, memaparkan bahwa durasi duduk yang panjang dapat meningkatkan tekanan pada bantalan antar ruas tulang belakang.

ÔÇ£Duduk dalam durasi panjang dapat memberi tekanan tambahan pada cakram tulang belakang dan memicu ketidaknyamanan, terutama bila dilakukan dengan postur yang buruk,ÔÇØ ujarnya.

Posisi membungkuk saat bekerja, menggunakan ponsel, atau menonton televisi sering kali tidak disadari telah membuat tulang belakang kehilangan posisi alaminya.

Efek Akumulasi Postur Tubuh yang Buruk

Fleksibilitas tubuh pada usia awal 20-an biasanya masih mampu mentoleransi postur yang kurang ideal, namun dampaknya baru akan terasa saat memasuki usia 30-an.

Kebiasaan menunduk menatap ponsel, membawa tas pada satu bahu, atau posisi layar komputer yang terlalu rendah memicu ketegangan otot kronis.

Morrow menjelaskan bahwa rasa nyeri timbul akibat akumulasi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan berulang secara konsisten setiap hari.

Ketika posisi bahu condong ke depan dan leher menekuk, otot punggung atas serta bawah dipaksa bekerja ekstra untuk menjaga keseimbangan tubuh.

Pengaruh Stres Emosional terhadap Ketegangan Otot

Faktor psikologis seperti tekanan kerja, masalah finansial, atau beban tanggung jawab keluarga turut memengaruhi timbulnya rasa sakit pada punggung.

Saat mengalami stres, tubuh secara refleks akan menegang dan ketegangan tersebut umumnya berkumpul pada area bahu, leher, serta punggung bawah.

Dr. Fetzer menegaskan adanya kaitan erat antara tekanan emosional dengan kemunculan nyeri punggung kronis pada pasien.

ÔÇ£Saat seseorang berada di bawah tekanan emosional, tubuh dapat menyimpan ketegangan pada otot. Ini dapat memperburuk atau memicu nyeri punggung,ÔÇØ jelasnya.

Aktivitas Fisik Tidak Konsisten dan Proses Pemulihan

Fenomena menjadi "weekend warrior", yaitu bersikap pasif selama hari kerja lalu berolahraga intensitas tinggi saat akhir pekan, berisiko memicu strain otot.

Dr. Fetzer menilai pola olahraga ekstrem yang tidak konsisten ini sebagai salah satu pemicu utama cedera punggung pada orang dewasa muda.

Saat otot inti tubuh melemah, tulang belakang harus menopang beban lebih besar, sehingga gerakan sederhana dapat memicu rasa sakit mendadak.

Selain itu, kemampuan pemulihan tubuh pada usia 30-an mulai mengalami penurunan kecepatan dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya.

Morrow menyebutkan bahwa sistem saraf dapat memicu respons protektif yang membuat tubuh tetap kaku meski jaringan yang cedera sebenarnya telah membaik.

ÔÇ£Tubuh bisa tetap terasa kaku dan tegang bahkan setelah jaringan sebenarnya sudah pulih,ÔÇØ katanya.

Langkah pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga postur, rutin bergerak, memperkuat otot inti, serta mengelola stres dengan baik.

Pemeriksaan medis ke dokter disarankan jika rasa nyeri berlangsung lebih dari empat minggu, semakin berat, atau disertai gejala mati rasa.

Artikel terkait

Rekomendasi