Fenomena seseorang yang mendadak lupa akan tujuannya setelah memasuki sebuah ruangan ternyata memiliki penjelasan ilmiah yang berkaitan dengan cara kerja otak. Hal ini berkaitan erat dengan sistem memori manusia yang terbagi menjadi dua kategori utama, yakni memori jangka panjang dan memori kerja atau working memory.
Dilansir dari Detik Health, memori kerja memiliki kapasitas yang sangat terbatas dalam memproses informasi. Meskipun masih menjadi perdebatan di kalangan ahli, para psikolog memperkirakan bahwa manusia rata-rata hanya mampu menampung sekitar 4 hingga 7 potongan informasi dalam satu waktu, baik berupa angka, huruf, kata, maupun frasa.
Keterbatasan ini menyebabkan otak tidak bisa memproses semua informasi secara bersamaan. Profesor neuroscience dari MIT, Earl K Miller, menjelaskan bahwa otak manusia terus melompat dari satu ide ke ide lainnya alih-alih menyadari semua potongan informasi tersebut secara sinkron.
"Alih-alih menyadari semua 'potongan' itu secara bersamaan, otak terus melompat dari satu ide ke ide lainnya. Akibatnya, salah satu ide lebih mudah 'hilang di tengah keramaian'," ujar Miller.
Selain kapasitas yang sempit, otak secara otomatis akan menghapus informasi yang dianggap tidak penting dari memori kerja. Proses pembersihan ini bertujuan untuk memberikan ruang bagi informasi baru yang masuk ke dalam kesadaran manusia.
Jika sebuah informasi tidak segera dipindahkan dan disimpan ke dalam memori jangka panjang, maka ingatan tersebut akan hilang dengan cepat. Miller menegaskan bahwa pada dasarnya otak manusia tidak dirancang untuk melakukan multitasking atau mengerjakan banyak hal sekaligus.
Otak harus melakukan upaya sadar untuk mengelola berbagai pikiran saat memori kerja berpindah antaride. Aktivitas ini diatur oleh korteks prefrontal, yakni bagian otak yang bertanggung jawab atas proses pembelajaran kompleks, penalaran, hingga pengambilan keputusan.
Gangguan pada fokus atau pengalihan perhatian secara tiba-tiba ke hal baru dapat memicu hilangnya jejak pikiran sebelumnya. Kondisi inilah yang menyebabkan seseorang kehilangan memori jangka pendeknya sesaat setelah berpindah lokasi atau melakukan aktivitas lain.
"Otak menjatuhkan salah satu 'bola' yang sedang disulap, dan itulah kenapa kita jadi lupa," kata Miller.