Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi kombinasi posisi semu matahari, minimnya tutupan awan, dan pengaruh angin kering sebagai pemicu cuaca panas di Jakarta serta sekitarnya sejak pertengahan April 2026. Fenomena ini menyebabkan suhu udara di wilayah Jabodetabek terasa sangat terik selama masa peralihan musim.
Suhu udara di area Jakarta Utara dilaporkan sempat menyentuh angka 35 hingga 36 derajat celsius akibat intensitas radiasi yang tinggi, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa posisi matahari saat ini berada di dekat lintang khatulistiwa bagian utara.
"Menandakan intensitas sinar matahari cukup intensif di wilayah Indonesia," ujar Ida Pramuwardani, Pelaksana Harian Direktur Meteorologi Publik BMKG.
Kondisi langit yang cerah tanpa hambatan awan pada pagi hingga siang hari memperparah penerimaan panas di permukaan bumi. Selain itu, aliran angin timuran dari Australia yang bersifat kering turut mendominasi wilayah Indonesia bagian selatan sehingga menghambat pertumbuhan awan hujan.
Faktor kelembapan udara yang masih relatif tinggi selama fase pancaroba juga menjadi alasan mengapa tubuh manusia merasa lebih gerah. Tingginya kadar air di udara ini mengakibatkan proses penguapan keringat menjadi terhambat, yang kemudian memberikan sensasi panas lebih kuat dibandingkan suhu aktual.
Peningkatan suhu di area perkotaan juga dipengaruhi oleh struktur lingkungan dan aktivitas manusia yang menciptakan efek panas mikro. Kepala Balai Besar Meteorologi Wilayah II, Hartanto, menyoroti minimnya vegetasi dan dominasi material aspal serta bangunan yang memerangkap panas di permukaan jalan.
"Emisi gas buang dari kendaraan di jam-jam sibuk juga berkontribusi pada peningkatan suhu mikro," kata Hartanto, Kepala Balai Besar Meteorologi Wilayah II.
Sirkulasi udara yang tidak optimal akibat melemahnya pergerakan angin selama masa transisi musim turut memperburuk kondisi pendinginan alami di Jakarta. BMKG memprediksi musim kemarau di wilayah ibu kota akan dimulai secara resmi pada Mei 2026, meskipun potensi hujan lokal masih tetap ada pada sore hari.