Penyakit kulit scabies sering menyerang hewan peliharaan seperti kucing dan menimbulkan rasa tidak nyaman yang luar biasa. Kondisi ini ditandai dengan munculnya kerak pada kulit serta gatal-gatal yang sangat intens pada tubuh anabul.
Dikutip dari Popbela, scabies sering kali disalahpahami sebagai infeksi jamur biasa atau kudis ringan, padahal keduanya memiliki penyebab yang berbeda. Kucing yang terinfeksi biasanya akan terus menggaruk bagian tubuhnya hingga kulit berubah kemerahan.
Penyakit ini dipicu oleh tungau kecil bernama Sarcoptes yang menggigit dan hidup di bawah permukaan kulit. Parasit ini memicu peradangan, kulit mengelupas, hingga kerontokan bulu yang parah pada area yang terinfeksi.
Menurut data dari Pets WebMD, terdapat beberapa golongan parasit scabies yang dibedakan berdasarkan jenis dan tingkat keparahannya. Masing-masing memiliki area serangan yang berbeda pada tubuh kucing.
Pertama adalah Canine scabies atau Sarcoptic mange yang meski umumnya menjangkiti anjing, namun tetap dapat menyerang kucing jika tinggal berdekatan. Spesies ini menyebabkan luka terbuka dan gatal hebat pada kulit kucing.
Kedua, Feline scabies atau Notoedric mange yang merupakan jenis kudis khusus kucing dengan gejala yang serupa dengan kudis pada anjing. Jenis ini sangat menular di antara populasi kucing peliharaan maupun liar.
Ketiga adalah Tungau Telinga atau Otodectic mange yang menyerang saluran telinga hingga menimbulkan tumpukan kudis di daun telinga. Jika tidak ditangani, infeksi ini berisiko merusak gendang telinga kucing secara permanen.
Selain itu, terdapat jenis Walking Dandruff atau Cheyletiellosis yang bentuknya menyerupai ketombe putih kecil. Meskipun tergolong lebih jinak, jenis ini sangat mudah menular ke hewan lain bahkan ke manusia.
Terakhir adalah Trombiculosis atau chiggers yang merupakan tungau oval berwarna oranye. Parasit ini menghisap darah kucing dan biasanya ditemukan menempel pada area cakar, perut, atau kepala.
Gejala dan Dampak Penularan
Indikasi awal serangan scabies terlihat dari perilaku kucing yang menggaruk secara intens dan tidak wajar. Pada tingkat yang lebih parah, kucing akan menjilat atau menggigit kulitnya hingga menimbulkan lecet, luka infeksi, serta kerak yang menyerupai sisik.
Scabies merupakan penyakit yang dapat menular ke manusia melalui kontak langsung atau perantara serangga. Manusia yang tertular akan mengalami ruam kemerahan dan rasa gatal yang sangat mengganggu pada permukaan kulit.
Meskipun menimbulkan ketidaknyamanan, tungau dari kucing biasanya tidak dapat berkembang biak secara permanen di kulit manusia. Penanganan pada manusia dapat dilakukan dengan penggunaan salep khusus, alkohol, serta konsumsi obat alergi untuk meredakan gatal.
Langkah Pengobatan dan Pencegahan
Langkah pertama dalam menangani scabies adalah membawa kucing ke dokter hewan untuk pengambilan sampel kulit. Hal ini penting dilakukan agar dokter dapat menganalisis tingkat keparahan infeksi sebelum memberikan tindakan medis.
Metode pengobatan yang biasanya diberikan meliputi obat minum, suntikan sesuai dosis, serta penggunaan obat luar seperti salep atau sampo khusus. Pengobatan luar berfungsi untuk meredakan luka dan menghentikan penyebaran infeksi pada permukaan kulit.
Pemilik juga disarankan untuk melakukan isolasi terhadap kucing yang sakit guna mencegah penularan ke penghuni rumah lainnya. Penggunaan cone atau pelindung leher sangat dianjurkan agar kucing tidak menjilati area yang sedang diobati.
Pembersihan lingkungan tempat tinggal kucing secara menyeluruh wajib dilakukan untuk memastikan tidak ada telur tungau yang tertinggal. Kebersihan kandang dan area bermain menjadi kunci utama agar infeksi scabies tidak muncul kembali di kemudian hari.