Kehadiran anggota keluarga baru sering kali memicu perubahan emosional yang signifikan bagi anak pertama yang masih berusia balita. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Medcom, dinamika seperti kurang tidur dan terbaginya perhatian orang tua dapat memengaruhi sikap si kecil secara mendadak.
Anak-anak usia dini umumnya menunjukkan reaksi tertentu karena belum mampu mengutarakan emosi yang bercampur aduk lewat kata-kata. Fenomena kemunduran perilaku ini dikenal sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap peran baru mereka di dalam rumah.
Saat mengalami regresi, balita biasanya memperlihatkan tanda-tanda yang menyerupai kebiasaan bayi. Beberapa contohnya meliputi keinginan untuk kembali menggunakan popok, meminta minum dari botol, hingga mogok tidur siang.
Gejala lain yang kerap muncul adalah kecenderungan menguji batasan yang ada, sering mengoceh seperti bayi, minta sering digendong, atau mendadak tertarik dengan mainan adiknya. Persaingan antar saudara ini umumnya berakar dari rasa cemburu akibat pergeseran perhatian orang tua.
Ketika menghadapi situasi tersebut, orang tua disarankan memberikan pendampingan yang penuh pengertian. Respons yang ceria dan penuh penerimaan jauh lebih efektif dibandingkan dengan memberikan sanksi sosial atau membuat anak merasa malu.
Seorang psikolog perkembangan asal California, Kelley Yost Abrams, Ph.D., memberikan panduan mengenai sikap yang sebaiknya diambil oleh orang tua.
"Sebisa mungkin, akui perasaannya ÔÇÿOh, kadang-kadang memang enak jadi bayi!ÔÇÖ Dan bersikaplah ceria ÔÇÿAstaga, aku punya dua bayi kecil.ÔÇÖ" kata Kelley Yost Abrams, Ph.D.
Sebaliknya, hindari penggunaan kalimat yang menyudutkan status anak yang sudah besar. Ucapan yang membanding-bandingkan atau menyalahkan justru berisiko memperburuk kestabilan emosi anak serta merenggangkan hubungan batin dengan orang tua.
Kemunduran kemampuan ini juga bisa terlihat pada aspek keterampilan harian yang sebenarnya sudah dikuasai dengan baik oleh sang anak. Salah satu indikator utamanya adalah hilangnya kemampuan untuk tidur secara mandiri atau terjadinya kemunduran dalam rutinitas penggunaan toilet.