Ahli bedah tulang belakang di Hackensack University Medical Center, Ari R. Berg, M.D., menekankan pentingnya penggunaan bantal untuk menjaga keselarasan posisi tubuh pada Selasa (12/5/2026). Penggunaan penyangga kepala ini dinilai krusial guna memastikan tulang belakang berada pada posisi netral demi mencegah timbulnya nyeri punggung.
Keselarasan yang dimaksud mencakup posisi kepala, leher, dan punggung yang membentuk satu garis lurus rileks. Sebagaimana dilansir dari Lifestyle, dr. Mara Vucich, D.O., selaku dokter spesialis tulang belakang menyatakan bahwa secara medis belum ada kepastian mengenai efektivitas mutlak antara tidur dengan atau tanpa bantal.
"Bagi sebagian besar orang, tidur dengan bantal jauh lebih baik," ujar Ari R. Berg, M.D., ahli bedah tulang belakang di Hackensack University Medical Center, AS.
Pakar tersebut menjelaskan bahwa bantal berperan sebagai pendukung lengkungan alami punggung yang sulit dipertahankan jika tidur tanpa alat bantu. Kondisi tanpa bantal pada mayoritas posisi tidur justru berisiko memicu ketegangan otot hingga gangguan saraf akibat sudut leher yang tidak wajar.
"Terlepas dari posisi tidur, idealnya bantal harus menopang kepala dan leher dengan cara yang menjaga keselarasan tulang belakang tubuh," lanjut dr. Berg.
Risiko yang muncul akibat ketiadaan bantal meliputi kekakuan otot dan iritasi saraf karena leher dipaksa berada pada posisi yang tidak alami dalam waktu lama. Dr. Berg menegaskan bahwa pemilihan bantal harus disesuaikan dengan kebiasaan tidur masing-masing individu untuk hasil optimal.
"Tanpa bantal, sebagian besar posisi tidur akan memaksa leher kita berada pada sudut yang tegang dan tidak wajar selama berjam-jam, yang menyebabkan nyeri otot, kekakuan, dan bahkan iritasi saraf," ujar dr. Berg.
Dukungan terhadap penggunaan bantal juga datang dari Kepala Physical Medicine and Rehabilitation di Atlantic Health, AS, dr. Jason A. Smith, M.D. Ia menilai pemakaian bantal yang tepat dapat meringankan beban pada persendian sehingga mencegah terjadinya kejang otot.
"Tidur dengan bantal memungkinkan terjaganya keselarasan tulang belakang leher. Beban pada sendi menjadi jauh lebih ringan. Jika terganggu, persendian ini dapat menyebabkan kejang otot dan bahkan sakit kepala," ujar dr. Jason A. Smith, M.D.
Dr. Smith menambahkan bahwa kehilangan penyangga leher dapat mengganggu kenyamanan tidur secara keseluruhan. Kondisi ini pada akhirnya akan berdampak buruk pada kualitas istirahat di malam hari.
"Hilangnya penyangga leher dapat mengganggu kenyamanan. Hal ini akhirnya berdampak pada kemampuan mendapatkan tidur malam yang nyenyak," ujar dr. Smith.
Dr. Berg kemudian memberikan rincian teknis mengenai fungsi bantal bagi orang yang tidur dengan posisi telentang. Penyangga tersebut berfungsi mencegah kepala miring terlalu jauh ke belakang guna melindungi lengkungan leher.
"Untuk orang yang tidur telentang, bantal akan menopang lengkungan alami leher, mencegah kepala miring terlalu jauh ke belakang," ujar dr. Berg.
Apabila otot leher dan bahu dapat rileks sepenuhnya melalui posisi netral, seseorang dapat mencapai tidur yang berkualitas. Hal ini hanya bisa dicapai jika bantal yang digunakan memiliki ketebalan yang sesuai dengan anatomi tubuh.
"Dengan menjaga leher pada posisi netral, bantal yang baik memungkinkan otot-otot di leher dan bahu untuk rileks sepenuhnya sehingga kita bisa tidur nyenyak sepanjang malam," lanjut dr. Berg.
Namun, dr. Berg memberikan pengecualian bagi mereka yang terbiasa tidur tengkurap karena posisi ini memutar kepala ke satu sisi. Penggunaan bantal pada posisi telungkup justru berisiko membuat kepala miring ke atas secara paksa.
"Jika memakai bantal, kamu memaksa kepala kamu untuk miring ke atas dan berputar," kata dr. Berg.
Bagi individu yang tidak bisa mengubah kebiasaan tidur tengkurap, disarankan untuk menggunakan bantal yang sangat tipis atau bahkan tidak memakainya sama sekali. Rekomendasi ini bertujuan untuk meminimalisir sudut aneh yang tercipta pada leher.
"Untuk alasan ini, jika kamu terbiasa tidur tengkurap dan tidak dapat mengubah posisi, tidur tanpa bantal atau dengan bantal yang sangat tipis dan rata adalah pilihan terbaik," sambung dr. Berg.
Peringatan juga diberikan mengenai risiko bantal yang terlalu tinggi karena dapat mendorong dagu ke arah dada. Hal ini menyebabkan ketegangan pada otot bagian belakang leher dan punggung atas bagi mereka yang tidur telentang.
"Untuk posisi telentang, bantal yang terlalu tinggi akan mendorong dagu ke dada, menekuk leher ke depan dan menegangkan otot di bagian belakang leher dan punggung atas," kata dr. Berg.
Sementara bagi mereka yang tidur menyamping, bantal yang terlalu rendah dapat menyebabkan kepala jatuh di bawah bahu. Ketegangan otot leher akibat posisi ini dapat berkembang menjadi cedera ligamen dalam jangka panjang.
"Jika kamu tidur menyamping, kepala bisa jatuh jauh di bawah bahu, menyebabkan otot leher tegang. Ini memicu nyeri hebat, kaku, dan seiring waktu bisa menjadi cedera otot serta ligamen," tambah dr. Berg.