Kosmik Beri Penjelasan Terkait Fenomena Rebranding Motor Listrik

Kosmik Beri Penjelasan Terkait Fenomena Rebranding Motor Listrik
Foto: Ilustrasi Kosmik Beri Penjelasan Terkait Fenomena Rebranding Motor Listrik.

Pegiat kendaraan listrik dari Komunitas Sepeda/Motor Listrik Indonesia (Kosmik), Hendro Sutono, memberikan penjelasan mengenai praktik rebranding motor listrik asal China pada Selasa (14/4/2026). Hal ini menanggapi keraguan publik terkait kemiripan desain motor trail listrik Emmo dengan produk luar negeri.

Sebagaimana dilansir dari Detik Oto, publik menyoroti kesamaan desain antara model Emmo JVX GT dengan produk asal China, Kollter ES1-X PRO. Di platform digital Alibaba, produk tersebut ditawarkan dengan kisaran harga Rp 8 juta hingga Rp 10 juta per unit.

Pihak Emmo maupun Badan Gizi Nasional (BGN) dilaporkan belum memberikan pernyataan resmi mengenai kemiripan produk yang digunakan dalam program makan bergizi gratis tersebut. Hendro Sutono menyatakan bahwa penggunaan produk tanpa merek atau white label merupakan hal lumrah dalam industri otomotif global.

"(Praktik) umum," kata Hendro, kepada Detik Oto saat ditanya apakah beli kendaraan 'white label' dari China dan rebadge sudah biasa di industri kendaraan listrik.

Hendro menegaskan bahwa pengembangan murni rancang bangun lokal baru dilakukan oleh segelintir perusahaan di Indonesia. Kendati demikian, beberapa produsen mulai meningkatkan penggunaan komponen lokal pada bagian rangka hingga sistem roda.

"Justru lebih mudah menyebutkan yang murni rancang bangun dari lokal Indonesia, seperti GESITS, MAKA dan QUEST," sambung Hendro.

Ia juga membedah struktur biaya yang menyebabkan lonjakan harga dari platform B2B hingga sampai ke tangan konsumen. Menurut Hendro, harga dasar di pabrik belum mencakup biaya logistik, asuransi, serta berbagai kewajiban perpajakan impor yang berlaku di tanah air.

"Tapi kemudian ada beberapa yang mulai diproduksi lokal. Ada komponen yang mulai (dibuat lokal) dari produksi rangka, body, velg," katanya.

Komponen biaya meliputi PPh Pasal 22 sebesar 2,5 persen dan PPN impor sebesar 12 persen dari nilai pabean. Hendro merincikan bahwa harga unit Rp 10 juta dapat meningkat menjadi belasan juta hanya untuk mencapai pelabuhan Indonesia sebelum biaya logistik domestik dihitung.

"Mari kita hitung dengan angka. Ambil asumsi harga pabrik China Rp 10 juta per unit. Begitu barang keluar dari pelabuhan China menuju Indonesia, ongkos freight dan asuransi internasional untuk kargo sebesar ini bisa menambah 5-10%. Nilai Cost, Insurance, Freight (CIF) sudah menjadi sekitar Rp 10,5-11 juta. Ini adalah nilai dasar yang dipakai pemerintah Indonesia untuk menghitung semua kewajiban impor berikutnya," kata Hendro dalam tulisan pribadinya.

Proses perakitan di pabrik dalam negeri serta pemenuhan standar regulasi nasional juga berkontribusi besar pada harga jual akhir. Biaya tenaga kerja, uji tipe di Kementerian Perhubungan, dan sertifikasi menambah lapisan beban biaya pada unit yang awalnya bernilai rendah di luar negeri.

"Khusus untuk kendaraan listrik dalam bentuk terurai--Incompletely Knocked Down (IKD) dan Completely Knocked Down (CKD)--pemerintah memang memberikan insentif bea masuk 0%, tapi ini berlaku untuk produsen terdaftar dengan kewajiban investasi yang menyertainya, bukan sembarang importir," kata Hendro.

Lebih lanjut, Hendro memaparkan bahwa biaya operasional pabrik dan margin distributor menjadi faktor penentu harga akhir. Ia memperkirakan motor dengan komponen dasar Rp 10 juta di pasar global bisa dipasarkan senilai Rp 40 juta lebih di Indonesia setelah melewati seluruh proses tersebut.

"Di pabrik Indonesia, komponen-komponen itu kemudian dirakit. Upah tenaga kerja, listrik, air, sewa atau depresiasi bangunan, biaya quality control, pengujian, sertifikasi, semua menambah lapisan biaya di atas harga komponen impor tadi," ujar Hendro.

Perbedaan spesifikasi teknis juga menjadi alasan utama selisih harga yang signifikan antara produk di platform daring dengan produk bermerek. Produk pesanan khusus biasanya memiliki standar baterai, sistem pengereman, dan kontrol kualitas yang jauh lebih tinggi dibandingkan versi standar.

"Produsen-produsen China pada umumnya beroperasi layaknya penjahit. Mereka tidak menjual produk, mereka menjual kapasitas produksi. Platform seperti Alibaba adalah etalase Original Equipment Manufacturer (OEM) dan Original Design Manufacturer (ODM) yang menawarkan platform dasar dengan harga minimum. Spesifikasi sesungguhnya--kapasitas baterai, kualitas sel, rating motor, standar pengkabelan, sistem pengereman, hingga standar uji keselamatan--sepenuhnya ditentukan oleh pemesan," sebut Hendro.

Model trail yang digunakan Emmo diketahui memiliki spesifikasi motor 7.000 Watt dengan baterai 72V 31Ah yang dilengkapi fitur pengisian cepat. Hendro menganalogikan perbedaan ini seperti kualitas produk sandang yang bisa berasal dari pabrik yang sama namun dengan standar berbeda.

"Ini adalah cara kerja industri manufaktur global yang sudah berlangsung puluhan tahun. Sepatu yang dijual di mal seharga Rp 800 ribu dan sepatu Rp 80 ribu di pasar bisa saja keluar dari pabrik yang sama di Jawa Tengah. Bedanya ada di spesifikasi bahan, standar jahitan, dan kontrol kualitas yang dipesan oleh merek masing-masing," ujar Hendro.

Artikel terkait

Rekomendasi