Penerapan sistem Nutri Level pada berbagai gerai minuman kekinian mengungkap fakta bahwa label 'less sugar' atau 'no sugar' tidak menjamin sebuah produk masuk dalam kategori A atau paling sehat. Dilansir dari Detik Health, beberapa menu minuman justru masuk dalam kategori terbawah, yaitu C dan D, meskipun diklaim tanpa gula tambahan.
Sebagai contoh, menu Grape with Green Tea di Xing Fu Tang tetap masuk kategori C walau diberi label no sugar. Fenomena serupa terjadi pada menu Ovaltine Milk yang berlabel no sugar namun berada di kategori D, serta beberapa varian Americano di Fore Coffee seperti Triple Peach dan Berry Manuka yang masuk kategori C dan D.
Penilaian dalam sistem Nutri Level tidak hanya bertumpu pada keberadaan gula tambahan saja. Parameter penilaian mencakup total kandungan gula, lemak jenuh, serta kadar natrium per 100 ml produk, sehingga minuman tanpa gula tetap bisa mendapat nilai buruk jika komponen lainnya tinggi.
Dokter spesialis gizi klinik, dr Tjandraningrum, M.Gizi, SpGK, Subsp.KM, menjelaskan bahwa minuman dengan label no sugar masih mungkin mengandung gula alami. Hal ini terutama terjadi jika minuman tersebut menggunakan bahan dasar buah-buahan atau sirup perasa buah.
"Walaupun dia no sugar tapi tetap ada gula. Di buah itu ada namanya gula buah," kata dr Tjandraningrum.
Ia juga memberikan peringatan mengenai penggunaan sirup dalam racikan minuman yang dapat menyumbang kadar gula secara signifikan.
"Apalagi grape sirup, itu kan pasti mengandung gula," ujar dr Tjandraningrum.
Faktor Tambahan yang Memengaruhi Nilai Gizi
Proses pengolahan buah menjadi jus membuat penyerapan gula oleh tubuh berlangsung lebih cepat dibandingkan mengonsumsi buah utuh. Selain itu, penggunaan bahan campuran seperti krimer, mousse, cream, hingga susu full cream memberikan sumbangan lemak jenuh yang tinggi pada total kalori.
Penambahan topping populer seperti boba, jelly, whipped cream, hingga saus cokelat dan karamel turut meningkatkan asupan energi dan gula. Ukuran gelas yang besar juga memperbesar akumulasi kalori yang dikonsumsi masyarakat dalam satu porsi minuman.
Masyarakat diingatkan bahwa Nutri Level berfungsi sebagai panduan awal dan bukan merupakan patokan mutlak kesehatan sebuah produk. Penilaian kualitas gizi tetap harus dilihat secara komprehensif melalui komposisi bahan, frekuensi konsumsi, serta pola aktivitas fisik harian.