Pengelola pelintasan sebidang Ampera di Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, memberikan klarifikasi terkait isu keterlibatan kelompok tertentu dalam operasional harian mereka. Para penjaga membantah adanya campur tangan organisasi masyarakat (ormas) maupun preman dalam pemungutan sumbangan atau pengaturan lalu lintas di titik tersebut.
Erfan (40), salah satu relawan di lokasi, memberikan penegasan bahwa operasional pelintasan sepenuhnya dijalankan oleh penduduk setempat secara mandiri. Hal ini sekaligus menepis anggapan adanya pihak luar yang mengoordinasi kegiatan di sana, seperti dikutip dari Megapolitan.
"Enggak ada itu (ormas). Ini murni relawan warga sini," ungkap Erfan saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis (30/4/2026).
Keterbatasan lapangan pekerjaan menjadi alasan utama banyak warga setempat memutuskan untuk mendedikasikan waktu mereka sebagai penjaga pelintasan. Meski bekerja secara swadaya, para relawan menyatakan kesiapan mereka untuk patuh terhadap segala regulasi yang akan diambil oleh pemerintah daerah maupun PT Kereta Api Indonesia (KAI).
"Kami ikut saja kalau nantinya mau dibangun flyover atau apa. Soalnya ini kan lahan mereka," ujar Erfan.
Keamanan di pelintasan Ampera diklaim telah mengalami peningkatan signifikan sejak penggunaan palang bambu ditinggalkan. Namun, para penjaga mengakui bahwa risiko kecelakaan tetap mengintai, terutama dipicu oleh tingginya volume kendaraan dan perilaku pengendara yang sering tidak sabar.
"Ketakutan pasti ada, tapi ini buat perut juga. Ini penghasilan," katanya.
Kurangnya disiplin pengguna jalan menjadi tantangan harian yang harus dihadapi oleh para relawan di lapangan. Erfan juga menyoroti kondisi masa lalu di mana pengawasan dari otoritas terkait sangat minim, sehingga beban penjagaan sepenuhnya berada di pundak warga lokal.
"Dulu enggak ada petugas resmi, enggak ada Dishub. Cuma relawan saja. Pergantian penjaga bisa sampai 10 kali sehari," jelasnya.
Kepadatan arus lalu lintas mengharuskan pelintasan ini dijaga tanpa henti selama 24 jam penuh. Haidar (30), penjaga lainnya, memberikan catatan terkait pemasangan palang besi baru yang dianggap memberikan tantangan ruang bagi mobilitas kendaraan yang sangat tinggi.
"Kalau menurut saya malah kurang aman, soalnya sirkulasi kendaraannya tinggi, tapi palangnya jadi sempit. Dulu kan jalan lebar, enak. Pakai bambu saja sudah aman," ujarnya.
Haidar, yang telah bertugas selama hampir delapan tahun, menyampaikan aspirasinya agar akses jalan tersebut tidak ditutup secara permanen. Baginya, lokasi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi vital, tetapi juga tumpuan ekonomi bagi warga yang bertugas menjaga keselamatan di sana.
"Kalau enggak ada yang jaga, susah diaturnya. Banyak yang maunya nerobos," tuturnya.
Langkah perbaikan di pelintasan sebidang Ampera ini merupakan respons cepat setelah terjadinya insiden kecelakaan beruntun pada Senin (27/4/2026) malam. Kecelakaan tersebut melibatkan taksi Green SM, KRL relasi CikarangÔÇôJakarta, serta tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL JakartaÔÇôCikarang.
Berdasarkan pengamatan di lokasi, pelintasan yang telah ada sejak era 1980-an tersebut kini tampil dengan wajah baru. Palang besi permanen telah terpasang kokoh di kedua sisi rel menggantikan sistem palang manual dari bambu yang digunakan sebelumnya.
Fasilitas pendukung keselamatan lainnya juga mulai dilengkapi, termasuk papan peringatan dini bagi pengguna jalan agar lebih waspada saat melintas. Selain itu, aspal di sekitar rel telah diperbaiki untuk menjamin kelancaran arus kendaraan bermotor.
Saat ini, sejumlah petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) mulai disiagakan untuk membantu pengaturan lalu lintas pada jam-jam sibuk. Meskipun pengawasan kini jauh lebih ketat dibandingkan hari-hari sebelumnya, aktivitas mobilitas warga di kawasan Bekasi Timur tersebut terpantau tetap berjalan normal.