Modus penipuan daring dengan skema klaim paket hilang melalui aplikasi pesan singkat WhatsApp mulai menyasar pengguna marketplace dengan memanfaatkan kebocoran data pengiriman yang valid. Aksi ini dilaporkan mulai marak terjadi pada Selasa (13/01/26) dan menjadi perbincangan luas di media sosial seperti dilansir dari Tekno.
Pelaku biasanya menghubungi korban menggunakan nomor prabayar tidak dikenal dan langsung melampirkan informasi detail pesanan seperti nama, alamat, nomor telepon, hingga nomor resi. Detail yang akurat tersebut digunakan untuk membangun kepercayaan korban sebelum penipu mengklaim bahwa barang yang sedang dikirim telah dinyatakan hilang oleh tim gudang.
"Setelah kami cek dan laporan tim gudang, untuk saat ini paket pesanan tersebut dinyatakan HILANG pada saat proses pengiriman. Untuk proses dikirimkan ulang atau pengembalian dana, mohon kakak melengkapi beberapa data berikut agar kami bisa buatkan laporannya," begitu modus yang dipaparkan dalam laporan Tekno.
Setelah memberikan narasi tersebut, pelaku akan meminta korban mengirimkan tangkapan layar rincian pesanan dan tampilan akun aplikasi belanja. Pelaku juga kerap memberikan alasan teknis yang terkesan profesional untuk meyakinkan korban bahwa mereka merupakan pihak resmi dari pusat sortir ekspedisi.
"Untuk status pengiriman memang masih terus terupdate, kak. Tapi di sini barangnya tidak ada. Nanti di aplikasi akan muncul keterangan paket hilang saat pengantaran. Jadi sebelum estimasi waktu tiba, kami hubungi dulu kakaknya agar sebagai pelanggan tidak dirugikan. Silakan kak untuk dicek terlebih dahulu, nanti kami bantu buatkan laporannya," ujar pelaku penipuan dalam percakapan tersebut.
Pengamat keamanan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya, menjelaskan bahwa strategi ini mengeksploitasi kelengahan korban pada saat-saat yang tidak terduga. Menurutnya, pelaku memanfaatkan data pribadi yang sudah banyak bocor di pasar gelap digital untuk melancarkan aksinya secara terorganisir.
"Sadari bahwa pelaku ingin membuat korban lengah. Kapan korban lengah? Saat terkejut, atau saat sedang excited. Misalnya, 'loh, barang saya sudah dikirim?' kewaspadaan langsung hilang. Justru di momen seperti itulah kita harus paling berhati-hati," ujar Alfons Tanujaya.
Alfons menambahkan bahwa masyarakat harus memiliki kesadaran tinggi terhadap perlindungan data mandiri karena status keamanan data di tingkat kurir masih perlu diperbaiki. Ia menekankan pentingnya verifikasi identitas setiap kali menerima komunikasi dari pihak yang mengaku sebagai instansi resmi.
"Kita, orang Indonesia, perlu menyadari bahwa data kita sudah bocor. Kalau ada komunikasi masuk, pastikan kita berkomunikasi dengan pihak yang benar. Kalau kita yang ditelepon, hati-hati, super hati-hati. Bisa dibilang, kalau yang menghubungi tidak dikenal, 99 persen adalah penipu," kata Alfons Tanujaya.
Terkait rantai pengiriman, Alfons menyoroti pentingnya platform e-commerce dalam menyeleksi mitra kurir yang memiliki standar pengamanan data yang ketat. Hal ini mencakup proses masking data agar informasi sensitif tidak mudah diakses oleh pihak yang tidak berwenang selama proses distribusi barang.
"Perusahaan e-commerce yang ingin mencari mitra kurir harus memastikan kurirnya memiliki standar pengelolaan dan pengamanan data yang baik, bagaimana proses masking-nya, siapa saja yang berhak mengetahui data, dan informasi apa saja yang boleh diakses," jelas Alfons Tanujaya.
Mengenai regulasi, pemerintah telah mengeluarkan Permenkomdigi Nomor 7 Tahun 2026 yang mewajibkan registrasi kartu SIM berbasis biometrik. Alfons menilai pengetatan aturan ini merupakan langkah krusial untuk menekan penyalahgunaan nomor prabayar yang sering digunakan oleh para penipu digital.
"Akar terbesarnya adalah mudahnya orang mendapatkan nomor prabayar. Setelah dipakai untuk menipu, mereka tinggal ganti dan beli lagi, bisa berulang tanpa batas," tegas Alfons Tanujaya.
Alfons juga mengingatkan bahwa platform resmi biasanya tidak akan menggunakan jalur WhatsApp pribadi untuk menyampaikan informasi krusial mengenai status paket. Ia menyarankan pengguna untuk hanya mempercayai kanal komunikasi yang terintegrasi di dalam aplikasi belanja resmi.
"kalau kita sedang melakukan suatu aktivitas dan dihubungi, percayailah hanya kalau dihubungi dari platform resmi. Kalau belanja di suatu platform, komunikasinya ya di aplikasi platform itu. Atau kalau mau menghubungi, kita yang hubungi, bukan mereka yang hubungi kita," kata Alfons Tanujaya.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk tidak mencari nomor layanan pelanggan melalui mesin pencari karena risiko informasi palsu yang tinggi. Validasi data harus dilakukan melalui website resmi atau menu bantuan yang tersedia di dalam aplikasi untuk menghindari jebakan phishing lebih lanjut.
"Google sekarang sudah banyak informasi nomor kontak palsu, dan banyak forum berisi informasi palsu. Pastikan kita mengakses langsung dari aplikasi resminya, atau dari alamat website resmi yang sudah kita ketahui, jangan lewat mesin pencari," tegas Alfons Tanujaya.
Sebagai langkah pencegahan terakhir, kewaspadaan aktif menjadi satu-satunya pertahanan bagi pengguna. Pengguna disarankan untuk selalu memeriksa ulang status pesanan secara mandiri dan mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah pada setiap akun keuangan digital.
"Kalau ada komunikasi masuk, pastikan kita berkomunikasi dengan pihak yang memang benar. Kalau kita yang ditelpon, hati-hati super hati-hati. Jangan percaya dengan profile picture," ujar Alfons Tanujaya.