Pengguna Mobil Diesel Beralih ke Kendaraan Listrik Akibat Kenaikan BBM

Pengguna Mobil Diesel Beralih ke Kendaraan Listrik Akibat Kenaikan BBM
Foto: Ilustrasi Pengguna Mobil Diesel Beralih ke Kendaraan Listrik Akibat Kenaikan BBM.

Lonjakan harga bahan bakar minyak jenis solar nonsubsidi mulai mengubah pola konsumsi pemilik mobil diesel di Indonesia pada Rabu (6/5/2026). Dilansir dari Otomotif, para pengguna kini cenderung membatasi pemakaian kendaraan harian dan mulai beralih ke kendaraan listrik demi menekan biaya operasional yang meningkat tajam.

Ali Fahmi, seorang pemilik Toyota Fortuner TRD 2019 dan anggota komunitas ID42ner, mengungkapkan bahwa dirinya kini lebih selektif dalam mengoperasikan mobil diesel miliknya. Keputusan ini diambil lantaran beban pengeluaran untuk bahan bakar melonjak hingga tiga kali lipat dari biasanya.

"Semenjak solar nonsubsidi naik, saya tidak pakai Fortuner lagi untuk harian. Sekarang hanya untuk luar kota saja," ujar Ali.

Kenaikan tersebut memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi para pemilik mobil berkapasitas mesin besar. Ali menjelaskan bahwa anggaran bulanan yang sebelumnya stabil kini meroket di luar perkiraan wajar akibat penyesuaian harga pasar.

"Biasanya saya isi Dexlite di kisaran Rp 4 juta sampai Rp 5 juta sebulan, sekarang bisa tiga kali lipat. Jadi sekitar Rp 12 juta sampai Rp 15 juta," kata Ali.

Fenomena ini ternyata tidak hanya dialami oleh satu individu, melainkan menjadi tren di lingkungan komunitas otomotif. Banyak rekan sesama pengguna diesel yang mulai mempertimbangkan atau sudah membeli unit kendaraan listrik (EV) untuk kebutuhan mobilitas dalam kota.

"Teman-teman di grup komunitas sudah banyak yang beli EV juga, lebih irit," ucap Ali.

Kendati demikian, Ali masih berharap agar pemerintah atau otoritas terkait dapat mengendalikan fluktuasi harga bahan bakar tersebut. Ia menilai mobil diesel masih memiliki daya tarik jika harga energinya tetap berada pada batas batas kemampuan konsumen.

"Saya berharap kenaikan tidak seperti ini. Harga di bawah Rp 20.000 masih oke lah," kata Ali.

Di sisi lain, pengguna Toyota Fortuner VRZ 2021 asal Jakarta bernama Andre mengaku telah mengantisipasi kondisi ini lebih awal. Ia sudah menyiapkan kendaraan listrik sebagai moda transportasi utama untuk menyiasati pembatasan operasional mobil bermesin pembakaran internal.

"Mulai agak berat ya, untungnya saya sudah prepare EV. Biasanya Fortuner di pakai sesuai tanggal plat mobil (genap), akan jarang digunakan sekarang. Lebih ke full EV sehari-hari," kata Andre.

Langkah transisi ke kendaraan listrik ini diambil Andre bukan hanya karena faktor efisiensi bahan bakar. Ia melihat keunggulan teknologi pada mobil listrik yang dapat difungsikan sebagai sumber daya cadangan dalam kondisi darurat.

"BYD M6 ini memang sengaja dibeli karena antisipasi hal seperti ini juga, selain sebagai genset berjalan apabila ada apa-apa, karena semua sudah dengan teknologi dan butuh listrik jadi ketika ada kondisi darurat," lanjut Andre.

Artikel terkait

Rekomendasi