Kualitas konsumsi bagi jemaah haji menjadi aspek krusial yang mendapatkan perhatian serius guna mendukung kelancaran ibadah di Tanah Suci. Menjelang kedatangan jemaah di Madinah, pemerintah memperketat pengawasan makanan untuk memastikan kesehatan dan stamina mereka tetap terjaga.
Dilansir dari Cahaya, tim pengawas dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung menerapkan sistem pemeriksaan berlapis yang tidak mengenal kompromi. Seluruh rangkaian proses, sejak pemilihan bahan mentah hingga makanan sampai ke tangan jemaah, dipantau secara menyeluruh.
Skema pengawasan katering ini terbagi ke dalam tiga fase utama, yakni pra-produksi, proses produksi, serta tahap distribusi. Setiap tahapan wajib mematuhi standar operasional prosedur (SOP) ketat yang telah ditetapkan bagi seluruh penyedia jasa katering di Arab Saudi.
Pada fase pra-produksi, petugas memastikan seluruh bahan makanan berada dalam kondisi segar dan layak olah. Pemeriksaan dilakukan secara rutin pada bahan kering maupun bahan segar guna mengantisipasi adanya kerusakan kualitas bahan baku.
Pengawasan berlanjut secara langsung saat aktivitas memasak berlangsung di dapur. Tim pengawas bahkan sudah mulai bekerja sejak dini hari guna menjamin kualitas menu makan pagi bagi para jemaah.
"Pengeceika dilakukan tiga kali sehari mengikuti jadwal makan jemaah," ujar Nova MH, Perwakilan tim pengawas Poltekpar NHI Bandung di Madinah sebagaimana dikutip dari Cahaya.
Proses penyediaan hidangan ini dimulai jauh sebelum waktu fajar. Untuk jadwal makan pagi, pengawasan ketat telah dilakukan mulai pukul 00.00 hingga 04.00 waktu setempat, mencakup kebersihan area dapur hingga teknik pengolahan.
Kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi menjadi variabel penting dalam pengelolaan pangan. Suhu udara yang tinggi memiliki potensi mempercepat penurunan kualitas makanan jika tidak dikelola dengan metode yang tepat.
Tim memastikan suhu makanan saat didistribusikan tetap terjaga pada rentang 60 hingga 70 derajat Celsius. Standar suhu ini bertujuan agar hidangan tetap aman dikonsumsi dan terhindar dari risiko basi sebelum sampai ke hotel jemaah.
Pemerintah juga mengimbau agar para jemaah segera menyantap makanan setelah diterima. Penundaan konsumsi, meski makanan masih dalam wadah tertutup, berisiko memengaruhi keamanan pangan akibat faktor lingkungan.
Selain faktor kebersihan, aspek nutrisi menjadi perhatian utama dalam penyusunan menu. Hidangan dirancang seimbang untuk memenuhi kebutuhan energi jemaah yang memiliki jadwal aktivitas fisik cukup padat selama ibadah.
Daftar menu melibatkan beragam sumber protein seperti daging sapi, ayam, ikan, telur, hingga tempe. Sementara itu, kebutuhan serat dan vitamin dipenuhi melalui sayuran serta buah-buahan seperti pisang, apel, pir, kentang, dan wortel.
Komitmen pelayanan ini merupakan bagian dari sistem besar Kementerian Agama Republik Indonesia untuk memberikan fasilitas terbaik. Asupan yang terjaga diharapkan mampu menopang stamina jemaah saat menjalankan tawaf, sa'i, hingga wukuf.