Pendapatan United Tractors Turun 17 Persen pada Kuartal I 2026

Pendapatan United Tractors Turun 17 Persen pada Kuartal I 2026
Foto: Ilustrasi Pendapatan United Tractors Turun 17 Persen pada Kuartal I 2026.

PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan pendapatan bersih senilai Rp 28,6 triliun sepanjang kuartal I-2026, berdasarkan laporan manajemen yang dirilis pada Kamis (30/4/2026). Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 17 persen dibandingkan perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp 34,3 triliun.

Kinerja keuangan emiten grup Astra ini mengalami tekanan signifikan setelah PT Agincourt Resources tidak mencatatkan penjualan emas sama sekali pada periode tersebut. Selain itu, dilansir dari Money, pelemahan pada segmen mesin konstruksi dan kontraktor penambangan turut dipicu oleh penurunan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional tahun 2026.

Meskipun secara keseluruhan melandai, perseroan masih mendapatkan dukungan dari segmen pertambangan batu bara termal dan metalurgi yang tumbuh 13 persen menjadi Rp 8,0 triliun. Kenaikan ini didorong oleh penguatan harga rata-rata batu bara di pasar global yang mengompensasi penurunan di sektor lain.

Laba bersih United Tractors, setelah mengecualikan biaya non-recurring, tercatat merosot 44 persen menjadi Rp 1,8 triliun. Manajemen menjelaskan bahwa penurunan tajam ini merupakan dampak langsung dari nihilnya kontribusi penjualan emas serta penyesuaian operasional akibat kebijakan RKAB nasional.

Pada periode yang sama, UNTR mencatatkan biaya non-recurring sebesar Rp 1,2 triliun yang mencakup pembayaran terkait izin pemanfaatan kawasan hutan di tambang nikel Stargate. Selain itu, terdapat provisi penurunan nilai investasi pada proyek panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap yang memengaruhi neraca keuangan perusahaan.

Hingga 31 Maret 2026, posisi keuangan perseroan menunjukkan utang bersih sebesar Rp 5,5 triliun dengan rasio net gearing 5 persen. Kondisi ini berbalik dari posisi kas bersih Rp 7,7 triliun pada akhir 2025, yang dipengaruhi oleh aktivitas akuisisi tambang emas dan program pembelian kembali saham.

Pada unit bisnis mesin konstruksi, penjualan alat berat Komatsu mengalami penyusutan 20 persen menjadi 1.107 unit akibat rendahnya permintaan sektor tambang. Walau demikian, Komatsu tetap mendominasi pasar dengan pangsa 18 persen, meski pendapatan suku cadang dan jasa pemeliharaan juga terkoreksi 4 persen menjadi Rp 2,7 triliun.

Sektor kontraktor penambangan melalui PT Pamapersada Nusantara (PAMA) melaporkan penurunan volume pengupasan tanah sebesar 7 persen menjadi 236 juta bcm. Produksi batu bara untuk mitra kerja juga terpangkas 4 persen menjadi 31 juta ton dengan rasio pengupasan (stripping ratio) rata-rata 7,6 kali.

Sebaliknya, volume penjualan batu bara melalui PT Tuah Turangga Agung justru melonjak 23 persen mencapai 4,0 juta ton. Jika menyertakan penjualan pihak ketiga, total volume distribusi mencapai 4,6 juta ton, yang berkontribusi pada pertumbuhan pendapatan segmen ini di tengah tren pasar yang menantang.

Untuk bisnis emas dan mineral, pendapatan anjlok 76 persen menjadi Rp 691,6 miliar karena Tambang Emas Martabe tidak melakukan penjualan selama awal tahun. Namun, operasional di lokasi tersebut telah mengantongi izin dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kembali beraktivitas mulai Maret 2026.

Di lini bisnis nikel, PT Stargate Pasific Resources membukukan penjualan bijih nikel sebanyak 597 ribu wet metric ton (wmt). Sementara itu, Nickel Industries Limited (NIC) yang 20,14 persen sahamnya dimiliki UNTR, mendapatkan tambahan kuota RKAB penjualan bijih nikel menjadi 14,3 juta wmt dari sebelumnya 9,0 juta wmt.

Dalam aksi korporasi terbaru, perseroan menuntaskan akuisisi penuh PT Arafura Surya Alam pada 11 Februari 2026 sebagai bagian dari ekspansi tambang emas di Sulawesi Utara. Perseroan juga sedang melaksanakan program buyback saham tahap ketiga dengan alokasi maksimal Rp 2 triliun hingga akhir Juni 2026.

Artikel terkait

Rekomendasi