Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mulai memulihkan operasional Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang secara bertahap setelah sempat mengalami kelumpuhan akibat longsor pada awal Maret 2026. Pemulihan ini dilakukan melalui serangkaian langkah strategis guna mengatasi penumpukan sampah di wilayah ibu kota.
Dilansir dari Megapolitan, normalisasi fasilitas ini melibatkan pengaturan sistem kerja baru dan pembagian tiga sif pengangkutan untuk mencegah antrean panjang truk sampah. Kapasitas penerimaan di lokasi tersebut kini telah menyentuh angka 900 ritase per hari.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Asep Kuswanto menjelaskan bahwa pihaknya berupaya memangkas durasi tunggu armada pengangkut di lokasi pembuangan. Langkah ini juga diiringi dengan penutupan Zona 4A yang terdampak longsor dan pengalihan operasional ke Zona 3 serta dua titik baru.
ÔÇ£Saat ini, TPST Bantargebang telah kembali normal dengan kapasitas penerimaan mencapai 900 ritase per hari. Kami coba memangkas waktu tunggu. Selain agar tidak membuat antrean panjang, upaya ini juga dilakukan untuk menjaga kesehatan dan keselamatan para pengemudi (truk),ÔÇØ kata Asep Kuswanto, Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta.
Selain pengaturan ritase, DLH juga menyiapkan area aman bagi para petugas dan pemulung saat cuaca buruk terjadi di kawasan tersebut. Hal ini menjadi bagian dari protokol keselamatan kerja guna mencegah jatuhnya korban jiwa di masa mendatang.
ÔÇ£Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari peningkatan aspek keselamatan kerja di kawasan TPST Bantargebang,ÔÇØ ucap Asep Kuswanto.
Pemerintah juga mendorong peran aktif masyarakat dalam mengelola sampah dari level rumah tangga. Partisipasi warga dinilai menjadi faktor krusial dalam mengurangi beban volume sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir setiap harinya.
ÔÇ£Langkah ini dinilai menjadi kunci penting untuk mengatasi persoalan sampah di Jakarta secara berkelanjutan,ÔÇØ ujar Asep Kuswanto.
Data dari Megapolitan menunjukkan TPST Bantargebang menerima sekitar 7.500 ton sampah harian dengan kondisi kapasitas yang sudah terisi 80 persen. Selama masa perbaikan pascalongsor, sebagian beban sampah dialihkan ke fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Plant di Bantargebang dan Rorotan.
ÔÇ£Kami juga memanfaatkan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bantargebang untuk mengolah sampah sebanyak 100 ton. Dari upaya pengalihan ini, total sampah yang dapat tertangani hingga akhir pekan adalah 6.700 ton sampai 7.150 ton dari rata-rata sampah harian di Jakarta, yaitu 7.400 ton sampai 800 ton," jelas Asep Kuswanto.
Fasilitas RDF Plant Rorotan saat ini mengolah 300 ton sampah dan diproyeksikan akan meningkat secara bertahap hingga mencapai 1.000 ton per hari. Integrasi antara fasilitas pengolahan di hulu, tengah, hingga hilir terus diperkuat untuk menjaga stabilitas layanan publik.
ÔÇ£Pengoperasian RDF Plant Rorotan merupakan bagian dari upaya Pemprov DKI Jakarta untuk memastikan layanan pengolahan sampah tidak terganggu. Langkah ini dilakukan untuk menjaga kapasitas pengolahan sampah Jakarta selama masa pemulihan. Dengan berbagai langkah dan penanganan yang dilakukan, kami berharap agar operasional pengolahan TPST Bantargebang dapat kembali normal,ÔÇØ kata Asep Kuswanto.
DLH DKI Jakarta berkomitmen melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kesiapan teknis di setiap fasilitas pengolahan. Koordinasi lintas unit juga ditingkatkan untuk memantau sistem pengendalian bau dan kualitas hasil pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif.
ÔÇ£Kami fokus untuk double check terkait kesiapan RDF Plant Rorotan untuk mengolah sampah. Selain itu, kami juga memantau pengendalian dan penguatan sistem kontrol untuk memastikan kualitas output RDF tetap terjaga. Di luar itu, kami juga menjaga koordinasi dengan Tim Kerja Pemantau Kegiatan Pengelolaan RDF Plant Rorotan. Saya berharap tim tersebut terus memberikan masukan agar pengelolaan fasilitas ini semakin baik,ÔÇØ jelas Asep Kuswanto.