PT Kereta Api Indonesia (Persero) melaporkan sebanyak 84 korban insiden kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur telah dipulangkan dari rumah sakit per Senin (4/5/2026). Peristiwa ini melibatkan KA Argo Bromo Anggrek yang menabrak KRL hingga mengakibatkan belasan orang meninggal dunia.
Dilansir dari Money, manajemen KAI menegaskan komitmen untuk mendampingi seluruh pelanggan dan keluarga terdampak hingga seluruh tahapan penanganan medis maupun administratif selesai dilakukan. Saat ini, belasan penumpang lainnya masih membutuhkan observasi mendalam di fasilitas kesehatan.
"Per Senin (4/5/2026), sebanyak 84 pelanggan telah kembali ke rumah, sementara 17 pelanggan masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit," kata Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.
Pemantauan kondisi kesehatan para korban dilakukan secara berkala oleh tim internal perusahaan. Langkah ini bertujuan memastikan seluruh kebutuhan medis para pelanggan dapat terpenuhi tanpa kendala.
"KAI memastikan pemantauan kondisi pelanggan dilakukan secara berkala agar seluruh kebutuhan penanganan dapat terpenuhi," tambah Anne.
Proses pendampingan tidak hanya menyasar korban yang masih dirawat, tetapi juga mereka yang sudah diizinkan pulang ke rumah masing-masing. KAI menyiagakan personel untuk merespons kebutuhan lanjutan para penyintas insiden tersebut.
"Kami terus memantau kondisi pelanggan yang masih dirawat serta memastikan kebutuhan penanganan terpenuhi. Bagi pelanggan yang telah kembali ke rumah, pendampingan tetap kami lanjutkan sesuai kebutuhan," ujarnya.
Bagi penumpang yang memilih menggunakan biaya pengobatan mandiri, pihak perusahaan telah menyiapkan prosedur penggantian biaya atau reimbursement. Beberapa dokumen yang wajib disiapkan antara lain bukti perjalanan, identitas resmi, kuitansi rincian biaya, resume medis, serta salinan rekening bank.
Setelah seluruh berkas dinyatakan lengkap, koordinasi dengan pihak asuransi akan segera dilakukan. Estimasi penyelesaian proses klaim tersebut dijadwalkan rampung paling lambat dalam waktu 21 hari kerja.
Selain penanganan fisik, perusahaan menyediakan fasilitas dukungan psikologis berupa layanan trauma healing bagi pelanggan maupun keluarga yang mengalami dampak emosional. Akses layanan ini dibuka melalui Posko Informasi di Bekasi Timur atau kontak call center resmi.
Proses pemulihan mental dapat diawali melalui konsultasi telemedicine sebelum dilanjutkan dengan pertemuan tatap muka secara langsung. Selain aspek kesehatan, KAI juga mengelola sistem penemuan barang milik penumpang di lokasi kejadian.
Tercatat ada 115 barang penumpang yang berhasil dikumpulkan oleh petugas, dengan rincian 61 barang sudah diambil pemiliknya dan 54 barang lainnya masih tersimpan. Seluruh temuan diproses melalui sistem Lost and Found di stasiun terkait.
"KAI menjamin setiap barang diproses melalui verifikasi yang cermat agar dapat kembali kepada pemilik yang berhak. Kami juga memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan," tambah Anne.
Pusat layanan di Stasiun Bekasi Timur akan terus beroperasi hingga 11 Mei 2026 mendatang. Posko ini melayani koordinasi administrasi, informasi lanjutan, hingga bantuan psikologis bagi para korban dan keluarganya.
"KAI akan terus memastikan seluruh proses pendampingan berjalan dengan baik agar pelanggan dan keluarga dapat melalui masa pemulihan dengan lebih tenang dan terarah," tutup Anne.
Kecelakaan maut ini bermula pada Senin malam (27/4/2026) ketika KA Argo Bromo Anggrek menabrak rangkaian KRL yang sedang berhenti di lintasan. Benturan keras tersebut menyebabkan kerusakan fatal pada gerbong belakang KRL yang merupakan area khusus perempuan.
Sejumlah penumpang terjebak di dalam gerbong karena akses evakuasi tertutup material besi dan bangku yang hancur. Berdasarkan data akhir, insiden tabrakan tersebut menyebabkan 16 orang meninggal dunia.