Seorang pemuda bernama Dwi Angga Mukti berhasil menyulap lahan kumuh seluas 1,5 hektare di Rawa Malang, Semper Timur, Jakarta Utara, menjadi area pertanian perkotaan produktif pada Jumat (8/5/2026). Inisiatif yang dimulai sejak 2024 ini bertujuan melakukan penghijauan sekaligus menghapus stigma negatif wilayah tersebut.
Kebun bertajuk Bangun Karya Mandiri tersebut kini ditanami berbagai komoditas seperti kangkung, kemangi, sawi, hingga cabai. Dilansir dari Megapolitan, lokasi yang kini asri tersebut dulunya merupakan tempat pembuangan sampah liar dan lahan terbengkalai sisa pembangunan waduk.
Angga menjelaskan bahwa motivasi awalnya terjun ke dunia tani bermula dari keinginan memperbaiki lingkungan melalui organisasi Karang Taruna dan komunitas Orang Indonesia (OI). Kesadaran lingkungan ini tumbuh dari kecintaannya menanam pohon dan aktivitas sosial di wilayahnya sendiri.
ÔÇ£Awalnya cuma pengen penghijauan,ÔÇØ kata Angga.
Ketertarikannya membangun kebun juga didorong oleh kegelisahan terhadap label buruk yang selama ini melekat pada lingkungan tempat tinggalnya. Ia ingin membuktikan bahwa pemuda setempat bisa melakukan kegiatan yang memberikan dampak positif bagi masyarakat luas.
ÔÇ£Kalau kita main di luar, Rawa Malang kenalnya paling salah satunya tempat lokalisasi terus terkenalnya kampung kumuh,ÔÇØ kata Angga.
Label negatif tersebut seringkali membuat warga Rawa Malang dipandang rendah saat berinteraksi di luar lingkungan mereka. Angga merasakan sendiri bagaimana stigma tersebut mempengaruhi mentalitas anak-anak muda di wilayahnya.
ÔÇ£Iya, kita ke mana-mana dicapnya negatif aja kan. Rawa Malang, kalau ditanya anak mana, anak Rawa Malang. Sangkanya kayak gitu aja,ÔÇØ sambung Angga.
Upaya Angga tidak berjalan mulus karena ia sempat menghadapi cemoohan dari warga sekitar saat mulai membersihkan lahan bekas sampah tersebut. Banyak yang meragukan prospek ekonomi dari kegiatan bertani di tengah kota.
ÔÇ£Ngapain nanam-nanam lu, kayak orang gabut. Enggak ada duitnya, kurang kerjaan lu,ÔÇØ kata Angga menirukan sindiran warga.
Meski diremehkan, ia tetap konsisten mengajak remaja di lingkungannya untuk ikut berpartisipasi mengelola kebun. Saat ini, sekitar 10 hingga 15 anak usia SMP telah rutin membantu kegiatan operasional kebun setiap harinya.
ÔÇ£Namanya petani gini kan anak-anak muda jarang ada yang senang,ÔÇØ ungkap Angga.
Ia menggunakan pendekatan santai dengan mengajak para pemuda berkumpul di saung sebelum akhirnya mereka tertarik untuk membantu menyiram atau merawat tanaman secara sukarela. Proses adaptasi ini dilakukan secara perlahan agar para remaja merasa nyaman.
ÔÇ£Awalnya mah pasti enggak mau dia. Cuma kita ajak sering nongkrong dulu lama-lama dia senang sendiri,ÔÇØ ujar Angga.
Tantangan fisik juga sempat dialami ketika fasilitas pendukung pertanian miliknya rusak akibat dampak konflik antar-kelompok di kawasan tersebut. Meskipun sempat merasa terpukul karena kerusakan infrastruktur, Angga memutuskan untuk bangkit dan menanam kembali.
Keuletan tersebut kini membuahkan hasil ekonomi dengan pendapatan berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta per bulan dari hasil panen. Selain keuntungan finansial, Angga sebenarnya sempat memiliki peluang untuk memperdalam ilmu pertanian melalui program magang ke Jepang.
ÔÇ£Kaget juga, kan enggak ada harapan,ÔÇØ ungkap Angga.
Kesempatan magang tersebut terpaksa dilewatkan karena kendala biaya pelatihan pra-keberangkatan. Walaupun kecewa, lulusan SMP ini tetap memiliki ambisi besar untuk meningkatkan pengetahuan agrikulturnya demi memajukan kebun di masa depan.
ÔÇ£Mau lah. Ya kan kita balik dari sono (belajar di luar negeri) bisa bawa ilmu kan,ÔÇØ ujar Angga.