Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan pemusnahan massal terhadap ikan sapu-sapu yang ditangkap dari berbagai aliran sungai di ibu kota pada Jumat, 17 April 2026. Langkah ini diambil karena spesies tersebut dinilai invasif dan berbahaya bagi kesehatan manusia jika dikonsumsi akibat tingginya kadar pencemaran.
Berdasarkan data operasional, sebanyak 6,98 ton atau sekitar 68.880 ekor ikan sapu-sapu berhasil dijaring oleh petugas. Pemusnahan dilakukan dengan cara membelah dan mengubur bangkai ikan di titik-titik yang berdekatan dengan pintu air setelah penangkapan serentak tersebut selesai dilaksanakan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, memberikan penegasan terkait larangan pemanfaatan ikan ini. Ia menyoroti temuan residu logam berat yang melampaui standar keamanan pangan pada populasi ikan sapu-sapu di Jakarta.
"Untuk dimanfaatkan belum bisa, sebelum ada kajian resmi yang menyatakan bahwa ikan tersebut aman untuk dikonsumsi atau dijadikan pakan ternak. Karena residu logam berat di atas ambang batas," ujar Hasudungan, Sabtu (18/4).
Kondisi kontaminasi ini sangat kontras dengan habitat asli ikan sapu-sapu di Amerika Selatan, khususnya wilayah Amazon, Brasil. Meskipun di daerah asalnya ikan dari famili Loricariidae ini menjadi sumber protein harian, ekosistem di sana memiliki perbedaan kualitas lingkungan yang signifikan dibandingkan sungai-sungai di Jakarta.
Sebagaimana dilansir dari Detik iNET, laporan dari Phys.org pada Senin (20/4/2026) menyebutkan bahwa masyarakat tepi sungai Amazon mengonsumsi ikan hingga 462 gram per orang setiap hari. Ikan sapu-sapu yang dikenal lokal sebagai Acari atau Carachama merupakan bagian penting dari rantai makanan yang melibatkan spesies lain seperti Piranha hingga Piracuru.
Namun, ancaman pencemaran mulai membayangi wilayah tersebut. Jurnal ACS Omega Volume 11 Issue 7 Tahun 2026 mengungkapkan bahwa ikan sapu-sapu di Amazon mulai menyimpan bahan berbahaya seperti merkuri, kadmium, arsenik, dan timbal di dalam tubuhnya akibat kerusakan lingkungan.
Pakar lingkungan melalui Slow Food Foundation for Biodiversity mencatat bahwa di wilayah Peru dan Brasil, ikan ini biasanya diolah menjadi sup Chilcano de Pescado atau dibakar dalam bungkus daun yang disebut Patarascha. Keamanan konsumsi tersebut sangat bergantung pada kondisi vegetasi dan minimnya limbah kimia di habitat ikan yang merupakan pencari makan di dasar sungai atau bottom feeder tersebut.