Pemprov DKI Jakarta Angkat 7 Ton Ikan Sapu-Sapu dari Sungai

Pemprov DKI Jakarta Angkat 7 Ton Ikan Sapu-Sapu dari Sungai
Foto: Ilustrasi Pemprov DKI Jakarta Angkat 7 Ton Ikan Sapu-Sapu dari Sungai.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melakukan operasi pembersihan massal ikan sapu-sapu di berbagai aliran sungai ibu kota pada Minggu (19/4/2026) guna menyelamatkan ekosistem perairan dari dominasi spesies invasif yang telah mencapai tingkat mengkhawatirkan.

Dilansir dari Megapolitan, aksi serentak di lima wilayah kota administratif tersebut berhasil menjaring ikan sapu-sapu dengan total bobot hampir mencapai 7 ton. Wilayah Jakarta Selatan mencatatkan angka penangkapan tertinggi dengan kontribusi lebih dari 5 ton ikan yang diangkat dari dasar sungai.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan bahwa intervensi manusia diperlukan karena populasi ikan sapu-sapu sudah mendominasi ruang hidup di perairan Jakarta. Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, keberadaan spesies ini diperkirakan telah mencapai angka 70 persen.

"Kalau tidak, maka ekosistem air Jakarta pasti akan rusak," kata Pramono, Gubernur DKI Jakarta.

Pemerintah daerah memberikan respons terhadap adanya kritik mengenai cara pemusnahan ikan yang dianggap tidak memperhatikan aspek kesejahteraan hewan. Pramono menyatakan kesiapan untuk meninjau kembali prosedur operasional di lapangan bersama para ahli terkait.

"Mengenai saran dan kritik dari MUI, nanti saya minta untuk yang ahli untuk menyesuaikan tata caranya," ujarnya.

Majelis Ulama Indonesia memberikan catatan khusus mengenai etika perlakuan terhadap makhluk hidup dalam proses pengendalian populasi ini. Sekretaris Komisi Fatwa MUI, KH Miftahul Huda, menekankan pentingnya metode yang tidak menyiksa hewan meskipun tujuannya demi kemaslahatan lingkungan.

"Membunuh hewan diperbolehkan jika ada kemaslahatan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang baik," tegas KH Miftahul Huda, Sekretaris Komisi Fatwa MUI.

Pihak MUI menilai penguburan ikan dalam kondisi hidup sebagai tindakan yang kurang tepat karena memperlama proses kematian. Kendati demikian, organisasi tersebut tetap mendukung kebijakan pemerintah dalam menjaga keberlanjutan ekosistem sesuai prinsip maqasid syariah.

Kutipan lain datang dari komunitas pemerhati lingkungan yang menyoroti akar permasalahan populasi ikan sapu-sapu. Pegiat komunitas, Anton, berpendapat bahwa ledakan jumlah ikan sapu-sapu adalah dampak dari tingginya tingkat polusi sungai yang mematikan ikan lokal lainnya.

"Faktor utamanya justru pencemaran lingkungan," ujarnya Anton, pegiat komunitas.

Anton menambahkan bahwa sifat adaptif ikan sapu-sapu serta kemampuan reproduksinya yang menghasilkan ratusan telur membuat spesies ini bertahan di tengah kondisi air yang buruk. Saat ini, Pemprov DKI Jakarta memilih metode penguburan ikan yang sudah mati untuk mencegah polusi udara akibat pembakaran.

Artikel terkait

Rekomendasi