Pemerintah Indonesia tengah menggenjot proyek konversi batubara menjadi Dimethyl Ether atau DME di Tanjung Enim untuk memangkas ketergantungan impor Liquefied Petroleum Gas yang saat ini mencapai lebih dari 75 persen dari total konsumsi nasional, seperti dilansir dari Investortrust.
Langkah ini diambil demi mengatasi defisit perdagangan energi nasional yang membengkak akibat impor bahan bakar rumah tangga tersebut. Jika proyek ini berjalan lancar, beban cadangan devisa negara sebesar 9,4 miliar dolar AS per tahun dapat ditekan demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyoroti besarnya tekanan finansial terhadap anggaran negara akibat pembelian bahan bakar impor yang nilainya terus meningkat.
"Our foreign exchange spent every year just to buy LPG is around Rp 120 trillion to Rp 150 trillion ($7.5 billion to $9.4 billion). Especially if world oil prices rise, it will certainly be even larger," ujar Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Tekanan fiskal tersebut terlihat dari lonjakan subsidi LPG di dalam anggaran negara yang meningkat dari Rp67,6 triliun pada tahun 2021 menjadi sekitar Rp87 triliun untuk tahun 2025. Pemerintah menegaskan bahwa konversi komoditas domestik menjadi solusi utama demi menciptakan efisiensi anggaran energi.
"There is no other way for efficiency other than finding a path so that raw materials available domestically can be converted to replace LPG," kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Fasilitas DME di Tanjung Enim, Sumatra Selatan, menjadi ujung tombak transisi ini dan masuk dalam fase kedua proyek hilirisasi nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Proyek bernilai total Rp116 triliun di 13 inisiatif ini dioperasikan oleh PT Bukit Asam Tbk bersama PT Pertamina selaku pembeli utama.
CEO BPI Danantara Rosan Roeslani memaparkan signifikansi strategis dari lokasi tersebut saat menghadiri acara peletakan batu pertama di Cilacap, Jawa Tengah, pada 29 April 2026.
"The development of coal processing facilities into Dimethyl Ether or DME in Tanjung Enim serves as a substitute for LPG imports, where we still import 80% of our needs," kata Rosan Roeslani, CEO BPI Danantara.
Pabrik di Tanjung Enim tersebut ditargetkan mampu memproduksi 1,5 juta ton DME per tahun guna menggantikan sebagian besar dari total 8,2 juta metrik ton LPG yang saat ini masih dipasok dari luar negeri.
Kendati demikian, sejumlah pakar mengingatkan adanya tantangan ekonomi yang ketat dalam proses gasifikasi batubara kalori rendah ini. Guru Besar Energi Universitas Indonesia Iwa Garniwa menilai bahwa nilai produksi DME sangat sensitif terhadap fluktuasi harga batubara di pasar.
Menurutnya, jika harga batubara bertahan di atas 60 dolar AS per ton, komoditas DME tidak akan mampu bersaing di pasar tanpa adanya intervensi atau dukungan regulasi yang kuat dari pemerintah.
Iwa Garniwa juga mendorong dilakukannya reformasi sistem subsidi energi, di mana bantuan dialihkan dari subsidi komoditas langsung menjadi sistem berbasis manfaat menggunakan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial atau DTKS. Langkah ini diperlukan agar masyarakat memiliki insentif yang kuat untuk beralih dari penggunaan LPG tabung hijau 3 kilogram ke bahan bakar DME atau kompor listrik.