Pemerintah Kota Jakarta Utara melalui Suku Dinas Sumber Daya Air memastikan bahwa Waduk Rawa Malang di Semper Timur, Cilincing, masih berada di bawah tanggung jawab pemeliharaan pihak ketiga pada Senin, 20 April 2026. Penegasan ini muncul sebagai respons atas keluhan masyarakat setempat terkait buruknya kondisi fasilitas publik tersebut.
Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Jakarta Utara, Heria Suwandi, menjelaskan bahwa kerja sama pemeliharaan dilakukan antara penyedia jasa dengan Dinas SDA. Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, status waduk saat ini masih dalam masa pengawasan kontraktor sebelum diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah.
"Waduk terawat dengan baik oleh pihak ketiga, penyedia jasa yang berkontrak dengan Dinas SDA, karena masih dalam masa pemeliharaan," jelasnya kepada Kompas.com pada Senin (20/4/2026).
Selain masalah kebersihan, Heria mengungkapkan tantangan keamanan yang sering terjadi di area waduk. Lokasi tersebut dilaporkan sering menjadi titik tindak kriminalitas dan gangguan ketertiban umum oleh oknum tidak bertanggung jawab.
"Hanya saja di waduk tersebut merupakan daerah rawan pencurian sarana pendukung waduk, berupa pagar besi, kabel-kabel, lampu penerangan dan juga menjadi tempat tawuran warga dengan sajam," katanya.
Pihak Sudin SDA mengeklaim telah berupaya menjaga integritas fasilitas meski gangguan terus berulang. Koordinasi dengan aparatur kewilayahan di tingkat kelurahan dan kecamatan pun terus diperkuat guna menutupi kekurangan jumlah personel di lapangan.
"Mengingat keterbatasan personel maka kami juga dibantu oleh kelurahan atau kecamatan,ÔÇØ ucapnya.
Kondisi di lapangan justru dirasakan berbeda oleh masyarakat yang tinggal di sekitar waduk yang dibangun pada tahun 2024 tersebut. Saddam, seorang pengurus RT 09 RW 10 Semper Timur, menyatakan bahwa tidak ada petugas yang secara rutin melakukan pembersihan di area tersebut.
"Kondisi yang lihat sendiri lah seperti ini agak kurang terawat. Istilahnya karena petugasnya nih enggak ada nih kalau untuk petugas perawatan, petugas yang SDA-nya itu hanya di rumah pompa saja," ucap Saddam kepada Kompas.com pada Senin (20/4/2026).
Saddam menambahkan bahwa buruknya kualitas air waduk diperparah oleh masuknya limbah dari lingkungan pemukiman warga. Hal ini mengakibatkan terjadinya penumpukan kotoran yang merusak estetika dan kebersihan waduk.
"Ada aliran dari samping sana (pemukiman warga) jadi kayak ada sisa-sisa kotoran gitu ataupun saluran-saluran got yang masuk ke waduk sini,ÔÇØ ujarnya.
Masalah lain juga diungkapkan oleh Andin, seorang warga yang kerap melintas di area waduk. Ia menyoroti adanya limbah peternakan yang dibuang secara sengaja ke dalam waduk sehingga menimbulkan aroma tidak sedap.
"Iya itu kotoran sapi kebuang ke situ. apalagi kalau banjir musim hujan baunya,ÔÇØ imbuhnya saat ditemui di lokasi, Senin.
Andin menyayangkan ketiadaan tindakan tegas dari pihak terkait meskipun warga sudah berulang kali mendokumentasikan kondisi tersebut. Ia menilai pengawasan dari instansi berwenang sangat minim.
ÔÇ£Udah sering kali difoto tapi belum ada yang ini. Aturan dipanggil gitu,ÔÇØ ujarnya.
Kurangnya perawatan membuat fasilitas ini tidak lagi digunakan warga untuk berolahraga atau bersantai. Banyak warga yang akhirnya membatalkan niat mereka untuk beraktivitas di sekeliling waduk karena pemandangan yang tidak nyaman.
ÔÇ£Terkadang kasihan orang jogging sampai situ liat itu (tahi sapi) belok, yang nggak tahu balik lagi muter,ÔÇØ ucapnya.
Harapan warga adalah adanya perbaikan nyata agar area tersebut bisa kembali berfungsi sebagai ruang publik yang layak. Andin menekankan bahwa lokasi ini seharusnya bisa menjadi tempat bermain anak dan area olahraga yang dekat bagi warga.
ÔÇ£Oh kalau dibagusin lagi biar ini kan buat jogging, mainan anak, daripada jauh ya,ÔÇØ tambahnya.