Kasus gagal ginjal di Indonesia mengalami lonjakan signifikan hingga sembilan kali lipat yang memicu pembengkakan beban pembiayaan BPJS Kesehatan pada Selasa (14/4/2026). Penyakit ini kini menempati posisi kedua penyumbang biaya terbesar setelah penyakit jantung, menggeser posisi kanker dalam anggaran JKN.
Dilansir dari Detik Health, tren kenaikan beban biaya ini dipicu oleh banyaknya pasien yang baru menyadari kondisi kesehatan mereka saat sudah memasuki tahap lanjut. Tingginya angka kasus baru tersebut memberikan tekanan besar pada sistem kesehatan nasional.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, memberikan data spesifik terkait kenaikan anggaran yang terjadi selama periode enam tahun terakhir di Jakarta.
"Kalau gagal ginjal, kalau kita bandingkan tahun 2019-2025, itu dia meningkat 476,2 persen (pembiayaan di JKN)," kata Nadia saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (14/4/2026).
Lonjakan ini tercatat sebagai yang tertinggi dibandingkan kategori penyakit kronis lainnya. Pasien gagal ginjal kronis umumnya memerlukan terapi pengganti fungsi ginjal berupa hemodialisa atau cuci darah secara rutin dan berkelanjutan.
"Jadi memang hati-hati, ginjal itu seperti silent killer. Awalnya kenapa orang bisa sakit ginjal? Dia punya hipertensi dan penyakit gula (diabetes melitus) yang tidak terkendali," jelas Nadia.
Nadia menekankan bahwa kaitan antara gaya hidup dan penyakit tidak menular menjadi kunci utama meningkatnya jumlah penderita. Kondisi medis seperti hipertensi dan diabetes yang tidak tertangani dengan baik menjadi pemicu utama kerusakan organ ginjal secara perlahan.
"Itu peningkatannya paling tinggi dibandingkan lainnya dari sisi pembiayaan, berarti kan jumlah kasusnya banyak," ujarnya.
Berdasarkan data Cleveland Clinic, gejala penurunan fungsi ginjal sering kali tidak terlihat jelas pada fase awal. Beberapa tanda yang harus diwaspadai meliputi retensi cairan atau pembengkakan pada kaki dan tangan, perubahan frekuensi urine, hingga kelelahan ekstrem akibat penumpukan limbah dalam darah.
Selain itu, masalah kulit seperti gatal-gatal kronis, mual, hingga sesak napas akibat penumpukan cairan di paru-paru menjadi indikator klinis lainnya. Sebagian besar pasien harus menjalani prosedur cuci darah sebanyak dua hingga tiga kali setiap minggu jika tidak mendapatkan opsi transplantasi ginjal.