Gubernur Jakarta Pramono Anung memberikan instruksi untuk melakukan pemberantasan ikan sapu-sapu secara berkala di berbagai wilayah perairan Jakarta pada Kamis, 16 April 2026. Langkah ini diambil menyusul ledakan populasi spesies tersebut yang kini bersifat invasif dan mengancam keseimbangan ekosistem lokal.
Pemerintah Provinsi Jakarta mencatat bahwa keberadaan ikan ini telah merusak habitat asli di sungai-sungai ibu kota. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, otoritas terkait juga mengeluarkan peringatan bahwa ikan sapu-sapu dari perairan Jakarta berbahaya untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
Dilansir dari Detik iNET melalui data IPB Digitani, ikan sapu-sapu yang banyak ditemukan di Indonesia umumnya berasal dari genus Pterygoplichthys. Diidentifikasi terdapat 22 spesies dari genus tersebut yang tersebar di tanah air, dengan spesies Pterygoplichthys disjunctivus dan Pterygoplichthys pardalis sebagai jenis yang paling populer dikenal publik.
Secara biologis, ikan ini memiliki karakteristik fisik yang sangat tangguh dengan sisik keras namun fleksibel serta kepala pipih. Ikan yang sering dijuluki sebagai 'janitor fish' ini mampu tumbuh hingga ukuran 40 sentimeter dan memiliki kemampuan adaptasi tinggi, termasuk bertahan hidup di lingkungan dengan kadar oksigen rendah.
"janitor fish" ujar narasumber, dalam ulasan mengenai julukan ikan tersebut sebagai tukang bebersih di akuarium.
Meskipun memiliki peran sebagai pembersih alga, sifat eurifagik atau pemakan segala pada ikan ini menjadikannya ancaman bagi spesies lain jika populasinya tidak terkendali. Ikan yang berasal dari Amerika Selatan ini juga diketahui dapat bertahan hidup hingga 30 jam di luar air selama memiliki cadangan oksigen yang cukup di bagian perutnya.
Risiko kesehatan menjadi alasan utama larangan konsumsi ikan sapu-sapu yang ditangkap dari alam liar Jakarta. Walaupun secara teori dapat dikonsumsi jika berasal dari budidaya air bersih, ikan yang hidup di sungai tercemar mengandung polutan yang membahayakan tubuh manusia jika dikonsumsi dalam jangka panjang.