Pemerintah Berangkatkan 460 Petugas Haji Kloter Pertama ke Madinah

Pemerintah Berangkatkan 460 Petugas Haji Kloter Pertama ke Madinah
Foto: Ilustrasi Pemerintah Berangkatkan 460 Petugas Haji Kloter Pertama ke Madinah.

Sebanyak 460 personel Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026 resmi diberangkatkan menuju Madinah, Arab Saudi, melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada Jumat (17/4/2026). Keberangkatan ini menandai dimulainya misi pelayanan jemaah haji yang melibatkan unsur Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, TNI/Polri, serta media massa, sebagaimana dilansir dari Nasional.

Para petugas tersebut akan ditempatkan pada dua wilayah kerja utama, yaitu Daerah Kerja (Daker) Bandara dan Daker Madinah. Selama bertugas, mereka bertanggung jawab mengelola aspek transportasi, akomodasi, konsumsi, hingga memberikan layanan khusus bagi jemaah lanjut usia.

Wakil Menteri Haji dan Umrah RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menjelaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan skema kedaruratan guna melindungi jemaah di tengah dinamika geopolitik Timur Tengah. Tim perlindungan jemaah (Linjam) dari unsur TNI dan Polri menjadi prioritas pemberangkatan pada kloter pertama ini.

"Ini kan sebagian besar yang berangkat pertama adalah tim Linjam, dan mereka terdiri dari TNI, Polri, kemudian ada teman-teman wartawan yang juga bertugas, dan teman-teman yang bertugas di bandara," ucap Dahnil Anzar Simanjuntak.

Keberadaan personel keamanan ini dirancang untuk memastikan kesiapan operasional jika terjadi situasi darurat yang tidak diinginkan di wilayah Arab Saudi.

"Jadi memang untuk kontingensi plan atau kemudian Jadi memang untuk kontingensi plan atau kemudian kedaruratan nanti di sana tim akan dipersiapkan," kata Dahnil Anzar Simanjuntak.

Dalam arahannya, Dahnil menekankan bahwa seluruh petugas mengemban amanah besar dari negara dan masyarakat. Ia menyebut PPIH sebagai pilar utama yang menentukan kelancaran seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci.

"Ini adalah misi suci buat diri anda semuanya, buat keluarga anda, buat bangsa dan tentu buat agama. Ini adalah kebanggaan yang harus kita tunaikan. Hari ini anda akan berangkat, ada harapan dari banyak orang," ujar Dahnil Anzar Simanjuntak.

Presiden RI Prabowo Subianto juga memberikan perhatian khusus agar para petugas dapat menjaga integritas dan performa kerja selama musim haji berlangsung.

"Banyak harapan dititipkan pada kita. Ujung tombak dari suksesnya haji 2026 ini adalah Anda semuanya," tutur Dahnil Anzar Simanjuntak.

Dahnil mengingatkan para petugas untuk berempati terhadap perjuangan finansial para jemaah. Banyak warga Indonesia yang mengumpulkan biaya haji dengan menjual aset berharga atau menabung seumur hidup.

"Sebagian besar jemaah itu menjual tanahnya, jual sawahnya, bahkan mereka menabung selama masa hidupnya untuk bisa naik haji. Jangan mengkhianati harapan mereka untuk bisa menunaikan naik haji dengan baik," ujarnya.

Data menunjukkan tantangan besar pada tahun 2026 dengan jumlah jemaah lansia di atas 65 tahun mencapai lebih dari 40.000 orang, sementara mayoritas jemaah reguler masuk kategori risiko tinggi kesehatan.

"25 persen jemaah kita itu adalah orang-orang yang sepuh, orang-orang yang tua. 177.000 dari total 203.000 jemaah reguler Indonesia itu adalah orang-orang yang dikategorikan risti atau berisiko tinggi, terutama terkait dengan kesehatan," ucap Dahnil Anzar Simanjuntak.

Kondisi demografis tersebut menuntut kesiapsiagaan penuh dari para petugas lapangan tanpa adanya ruang untuk kelalaian.

"Jadi sahabat sekalian para petugas haji, demografi inilah yang nanti Anda layani. Maka tidak ada waktu berleha-leha," ujar Dahnil Anzar Simanjuntak.

Selain masalah pelayanan fisik, Dahnil secara khusus melarang para petugas melakukan aksi pamer atau flexing di media sosial yang dapat mencederai perasaan jemaah.

"Saya berharap teman-teman petugas itu fokus pada tugasnya untuk mendampingi dan menjaga jemaah. Jadi tidak perlu tadi flexing segala macem, pamer-pamer apa namanya kegiatan," kata Dahnil Anzar Simanjuntak.

Ia menyarankan agar penggunaan media sosial dialihkan untuk fungsi edukasi dan penyebaran informasi yang bermanfaat bagi publik di Indonesia.

"Kalau untuk syiar, saya pikir kami mendorong mereka. Tapi untuk syiar artinya mengabarkan, syiar, mengedukasi, bahkan kami menganjurkan seluruh petugas melakukan edukasi via sosial media," ucap Dahnil Anzar Simanjuntak.

Penyebaran konten positif diharapkan dapat memberikan ketenangan bagi keluarga jemaah di tanah air mengenai kondisi terkini di lapangan.

Artikel terkait

Rekomendasi