Aksi Pemalakan Sasar Kendaraan Logistik di Penjaringan Jakarta Utara

Aksi Pemalakan Sasar Kendaraan Logistik di Penjaringan Jakarta Utara
Foto: Ilustrasi Aksi Pemalakan Sasar Kendaraan Logistik di Penjaringan Jakarta Utara.

Aksi pemalakan yang menyasar pengemudi kendaraan pengangkut barang dilaporkan kerap terjadi di sekitar persimpangan Jalan Jembatan Tiga Raya, Penjaringan, Jakarta Utara. Fenomena premanisme ini meresahkan warga dan pengguna jalan, terutama setelah sebuah video kejadian tersebut viral pada Kamis (14/5/2026), dilansir dari Megapolitan.

Fauzan (36), seorang pengemudi ojek online yang beraktivitas di lokasi, menjelaskan bahwa para pelaku secara spesifik membidik mobil logistik, pikap, hingga truk kargo. Para pelaku biasanya memanfaatkan momen saat kendaraan melambat atau berhenti di persimpangan ke arah Angke.

"Emang banyak sih di sini, biasanya dari sini ke (arah) Angke itu juga kan ada di perempatan gini, dia ngasih-ngasih jalan. Biasanya yang diminta yang bawa barang gini," kata Fauzan saat ditemui Kompas.com di lokasi, Jumat (15/5/2026).

Fauzan mengaku sering melihat sopir ekspedisi dari arah pelabuhan menjadi sasaran karena kondisi jendela kendaraan yang sering terbuka. Hal ini memudahkan para oknum tersebut untuk mendekati pengemudi dan meminta uang secara paksa.

"Kayaknya dia emang nyarinya yang bawa barang, mobil-mobil pick-up sama truk-truk gitu, mungkin lebih gampang kali ya, apalagi suka kebuka jendelanya," ucap Fauzan.

Ia berharap pihak berwenang segera mengambil tindakan tegas terhadap para pelaku. Meskipun sesama pencari nafkah, Fauzan menilai tindakan tersebut sudah sangat mengganggu ketertiban umum.

"Ya sama-sama nyari makan sih tapi kan kalau begitu mengganggu orang juga ya, harus ditindak lah," ujar Fauzan.

Kesaksian serupa disampaikan oleh Arif (28), seorang pedagang setempat yang mengonfirmasi kehadiran orang-orang yang mencari uang dengan modus mengatur lalu lintas. Pelaku sering kali beraksi pada sore hari dengan berpura-pura menjadi pengatur jalan atau 'pak ogah'.

"Bisanya emang kadang ada, sore-sore gitu biasanya dia pak ogah sambil ngaturin lalu lintas gitu, kadang minta uang," ucap Arif.

Terkait peristiwa viral yang melibatkan pencurian kartu uang elektronik milik sopir, Arif mengaku tidak melihat kejadian itu secara langsung. Namun, ia mencatat bahwa para pelaku biasanya beraksi dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga hingga empat orang.

"Enggak sih (setiap hari), jarang malah sebenarnya, tapi saya juga kan enggak setiap hari di sini. Pindah-pindah kayaknya mereka juga," kata Arif.

Hingga saat ini, pihak Kepolisian Sektor Penjaringan belum memberikan keterangan resmi terkait rentetan aksi premanisme tersebut. Kanit Reskrim Polsek Penjaringan, AKP Sampson Sosa Hutapea, belum memberikan jawaban saat dihubungi untuk konfirmasi lebih lanjut.

Artikel terkait

Rekomendasi