JAKARTA, KOMPAS.com - Satu dari belasan titik pelintasan liar di sepanjang rel antara Stasiun Cawang dan Stasiun Tebet akhirnya ditutup permanen.
Paving block yang belum lama dibuat untuk memudahkan akses pengendara motor dibongkar. Kedua sisi pelintasan dipasang dengan pembatas beton setinggi 1,2 meter.
Tujuan penutupan ini demi keamanan perjalanan kereta api sekaligus warga setempat, mengingat banyak kasus kecelakaan kereta di pelintasan liar.
Namun, penutupan ini meninggalkan keresahan warga soal akses mobilisasi yang selama ini bergantung pada pelintasan tak resmi itu.
Satu pelintasan ditutup
Satu pelintasan di RW 12 Kebon Baru ditutup pada Kamis (14/5/2026) pagi. Mulanya ada sejumlah opsi pelintasan yang akan ditutup.
Setelah berdiskusi dengan perwakilan warga, akhirnya petugas dari PT Kereta Api Indonesia (KAI) memutuskan menutup satu pelintasan di kawasan RT 005.
Deputi II Daop I PT KAI, Hendrady, mengatakan pelintasan ini ditutup untuk keselamatan warga.
Ada 40 pelintasan di Daop 1 Jakarta yang akan ditutup oleh PT KAI. Lima di antaranya berada di antara Stasiun Tebet dan Cawang.
"Kami sudah berkoordinasi dengan pihak kewilayahan, mulai dari kepolisian, camat. Kesepakatannya, ada lima tempat yang akan ditutup," kata Hendrady di lokasi, Kamis.
Warga resahkan akses
Namun, penutupan pelintasan liar membuat warga sekitar merasa keberatan. Mereka mulai resah.
Dari sisi rel kawasan Kebon Baru, warga harus memutar sampai ke arah Kampung Melayu, Jakarta Timur, untuk mencapai Jalan Tebet Timur di seberangnya yang dipisahkan jalur rel. Begitu pula sebaliknya.
"Karena anak-anak sekolah bolak-balik lewat sini menggunakan motor. Kasihan kalau harus memutar terlalu jauh," tutur warga, Syahroni (56) di lokasi.
Warga lainnya, Ngatijan (74) juga mengungkapkan hal yang sama. Menurut dia, pelintasan ini sangat membantu banyak orang.
Mulai dari sekolah, pasar, hingga fasilitas kesehatan lebih mudah dijangkau dengan melewati pelintasan yang sudah dipasang paving block itu.
Dia meminta setidaknya satu pelintasan yang disisakan sebagai akses mereka.
ÔÇ£Ya, kalau bisa jangan ditutup karena kami merasa keberatan. Kalau mau ditutup semua, warga di sini tidak bisa keluar," kata dia.
Namun Hendrady bilang, tahun ini hanya satu pelintasan di Tebet yang ditutup.
KAI diminta bikin pelintasan resmi
Senada dengan warganya, Kepala Seksie Pembangunan Kelurahan Kebon Baru Samtopri, juga meminta agar PT KAI menyisakan satu pelintasan dan melegalkannya.
ÔÇ£Jadi, harapan kami paling tidak ada satu pelintasan yang nantinya bisa diakui atau terdaftar di PT KAI supaya pelintasan ini bisa dipergunakan masyarakat untuk lalu lalang," kata dia.
Pelintasan yang diusulkan untuk diakui secara resmi berada di dekat SMAN 37 Jakarta.
"Akses itu sangat dibutuhkan untuk anak sekolah dan para pedagang yang menuju ke pasar. Jadi, saya rasa yang mendesak adalah di titik tersebut," jelas Samtopri.
Sementara itu, Hendrady menjelaskan, pelintasan resmi umumnya memiliki lebar lebih dari 2 meter, dilengkapi dengan peralatan teknis dan petugas yang berjaga.
ÔÇ£Namun, untuk di sepanjang Kebon Baru-Cawang ini, rata-rata lebarnya di bawah dua meter semua, sehingga sulit untuk dikembangkan," kata Hendrady.
Selain itu, pembuatan pelintasan resmi membutuhkan biaya yang tidak sedikit.