Kinerja dua emiten Grup Indofood, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), berpotensi menghadapi tekanan akibat kelanjutan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi pada Selasa (19/5).
Dilansir dari Investasi, mata uang rupiah di pasar spot merosot Rp38 atau 0,22 persen ke posisi Rp17.706 per dolar AS, sedangkan kurs Jisdor melemah Rp53 atau 0,30 persen ke level Rp17.719 per dolar AS pada perdagangan tersebut.
Manajemen perusahaan menyampaikan bahwa penurunan nilai tukar ini belum memberikan dampak negatif terhadap jalannya operasional yang saat ini masih berjalan secara normal. Fokus penjualan perseroan juga dipastikan tidak akan mengalami perubahan di tengah situasi pergerakan kurs tersebut.
"Tentu domestik tetap saja," kata Franciscus Welirang, Direktur INDF.
Pihak manajemen menambahkan bahwa aktivitas ekspor lebih difungsikan untuk menjaga keseimbangan neraca keuangan saat mata uang domestik terdepresiasi. Penjualan ke luar negeri tersebut diharapkan mampu meredam kenaikan biaya produksi yang timbul.
Potensi penyusutan margin laba kedua emiten ini muncul karena besarnya keperluan mendatangkan bahan baku dari luar negeri, khususnya gandum sebagai komponen utama pembuatan mi instan. Kenaikan biaya operasional berisiko membebani keuangan jika penyesuaian harga jual tidak diterapkan kepada masyarakat konsumen.
"Perseroan memiliki skala bisnis besar dan efisiensi operasional yang kuat," kata Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas.
Kekuatan merek dinilai menjadi keunggulan yang membuat fundamental perusahaan tetap terjaga dengan baik. Selain itu, kepemilikan lini bisnis di sektor agribisnis turut menjadi faktor penyeimbang risiko bagi grup usaha ini.
"Dengan demikian, pelemahan rupiah memang dapat menekan margin dalam jangka pendek, tetapi belum tentu menggerus fundamental secara signifikan," ucap Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas.
Analis menyarankan sejumlah langkah mitigasi untuk meminimalkan dampak buruk dari fluktuasi nilai tukar ini, termasuk melalui aktivitas lindung nilai. Penguatan struktur permodalan dan menjaga kesehatan likuiditas juga menjadi hal penting yang harus diperhatikan pihak manajemen.
"Selama strategi tersebut dijalankan dengan baik, dampak pelemahan rupiah terhadap profitabilitas dapat minimalkan," kata Alrich Paskalis Tambolang, Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas.
Kondisi pasar saat ini dinilai lebih mencerminkan risiko temporer bagi para pemodal karena sifat produk perseroan yang merupakan kebutuhan pokok harian masyarakat. Di sisi lain, analisis dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, turut membenarkan pengaruh negatif kurs dolar terhadap biaya impor gandum dan menyarankan investor untuk mengambil sikap wait and see karena harga saham masih bergerak turun.