Pelemahan Rupiah Mulai Mengganggu Penjualan Hewan Kurban Peternak

Pelemahan Rupiah Mulai Mengganggu Penjualan Hewan Kurban Peternak
Foto: Ilustrasi Pelemahan Rupiah Mulai Mengganggu Penjualan Hewan Kurban Peternak.

Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) kini mulai mengganggu aktivitas penjualan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha 2026. Dampak dari kondisi ekonomi tersebut dirasakan langsung oleh para peternak rakyat di wilayah pedesaan.

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Pemindo), Kusnan, mengungkapkan bahwa lesunya penjualan terjadi pada usaha peternakan domba skala kecil miliknya. Dikutip dari Megapolitan, pergerakan pasar hewan kurban tahun ini melambat dibandingkan periode sebelumnya.

ÔÇ£Biasanya bulan-bulan haji seperti sekarang, sejak awal Zulhijah itu domba sudah mulai habis terjual. Namun saat ini masih banyak yang belum terjual,ÔÇØ kata Kusnan, Selasa (19/5/2026), dikutip dari Youtube Obrolan News Room Kompas.com.

Menurut Kusnan, penurunan omzet penjualan ini menjadi indikator nyata atas melemahnya kekuatan finansial masyarakat. Beban pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari serta biaya produksi yang melonjak diduga menjadi pemicu utama.

ÔÇ£Itu dampak nyata yang kami rasakan di level bawah, khususnya di pedesaan,ÔÇØ ujarnya.

Masalah yang dihadapi sektor peternakan tidak berhenti pada penurunan angka penjualan saja. Depresiasi mata uang rupiah turut memicu lonjakan harga pakan ternak di pasaran.

Kusnan membeberkan bahwa harga pakan untuk ayam petelur merangkak naik sekitar Rp 200 per kilogram pada awal pekan ini. Secara akumulatif, total kenaikan harga pakan sepanjang bulan ini telah menembus angka Rp 400 hingga Rp 500 per kilogram.

ÔÇ£Harga kebutuhan hidup dan biaya produksi ikut naik ketika rupiah melemah,ÔÇØ kata dia.

Ketergantungan terhadap impor bahan baku dituding menjadi penyebab utama sensitivitas sektor peternakan domestik terhadap fluktuasi mata uang asing. Ketika rupiah terkoreksi, biaya operasional otomatis membengkak.

Kondisi ini menyulitkan para peternak kecil karena pasokan pakan dan obat-obatan sepenuhnya bergantung pada industri pabrikan besar.

Rendahnya Harga Jual Belum Mampu Menstimulus Pasar

Situasi para pelaku usaha peternakan rakyat dinilai kian pelik akibat jatuhnya harga jual komoditas lain seperti daging ayam dan telur di tingkat peternak.

Meskipun harga sejumlah produk peternakan sedang merosot, fenomena tersebut rupanya belum mampu merangsang volume pembelian oleh konsumen.

ÔÇ£Harusnya kalau harga lagi murah mudah dibeli, tapi ternyata daya beli masyarakat juga lemah,ÔÇØ ujar Kusnan.

Kusnan menegaskan bahwa imbas negatif dari fluktuasi nilai tukar mata uang ini tidak hanya memukul korporasi besar, melainkan sudah menjalar ke sektor UMKM dan masyarakat desa.

ÔÇ£Pelemahan rupiah sangat berdampak bagi peternak rakyat, UMKM, dan pelaku usaha kecil menengah ke bawah,ÔÇØ kata dia.

Berdasarkan data aktivitas pasar spot pada perdagangan Selasa (19/5/2026), nilai tukar rupiah ditutup berorientasi negatif. Mata uang Garuda terdepresiasi sebesar 38 poin atau melemah 0,22 persen ke posisi Rp 17.706 per dollar AS.

Artikel terkait

Rekomendasi