Pekerja Gen Z Hanya Bertahan 1,8 Tahun di Satu Perusahaan

Pekerja Gen Z Hanya Bertahan 1,8 Tahun di Satu Perusahaan
Foto: Ilustrasi Pekerja Gen Z Hanya Bertahan 1,8 Tahun di Satu Perusahaan.

Durasi kerja generasi muda kini menjadi perhatian serius bagi manajemen perusahaan. Banyak pekerja dari generasi tersebut dinilai memiliki masa bertahan yang jauh lebih singkat di suatu instansi dibandingkan generasi terdahulu.

Dikutip dari Money, survei terbaru dari Gateway Commercial Finance terhadap lebih dari 1.000 pekerja Gen Z dan manajer perekrutan mengungkapkan fakta tersebut. Rata-rata pekerja Gen Z terpantau hanya menghabiskan waktu sekitar 1,8 tahun di satu tempat kerja sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah.

Kecenderungan ini memperkuat label mereka sebagai generasi yang gemar berpindah pekerjaan atau job hopper. Di balik fenomena tersebut, terdapat pergeseran cara pandang mengenai arti loyalitas, karier, dan tujuan bekerja.

Generasi ini memiliki batasan yang lebih tegas terhadap lingkungan kerja yang dirasa kurang sehat, tidak menghargai staf, ataupun minim ruang berkembang. Mereka menolak eksploitasi, upah rendah, serta perlakuan yang tidak adil dari perusahaan.

Hasil jajak pendapat Gateway Commercial Finance menunjukkan sebanyak 47 persen pekerja Gen Z berniat keluar dari pekerjaan mereka dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Setengah dari total responden bahkan mengaku siap mengundurkan diri kapan saja jika memperoleh penawaran kerja yang lebih menjanjikan.

Kondisi ini menandakan bahwa loyalitas kerja tidak lagi diartikan sebagai pengabdian jangka panjang di satu instansi. Hanya seperempat dari pekerja Gen Z yang mengaku berkomitmen menetap lama di tempat kerja mereka saat ini.

Kurang dari separuh responden meyakini bahwa kesetiaan pada satu korporasi masih memberikan profit di pasar tenaga kerja modern. Perubahan pola pikir ini semakin terakselerasi setelah pandemi, saat fleksibilitas, kesehatan mental, dan work-life balance menjadi prioritas utama.

Profesor sosiologi University of Illinois Kevin Leicht menyebutkan bahwa pergeseran cara pandang ini sebenarnya telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.

"Selama bertahun-tahun kita diberi tahu bahwa karier stabil sudah menjadi masa lalu," kata Leicht.

"Era bekerja lebih dari 30 tahun di perusahaan yang sama sudah berakhir," tutur dia.

Kevin Leicht menambahkan bahwa Gen Z tumbuh besar dalam situasi ketidakpastian ekonomi, disrupsi industri, serta bayang-bayang pemutusan hubungan kerja. Lingkungan tersebut membentuk sudut pandang hubungan kerja yang lebih transaksional jika dibandingkan dengan generasi pendahulu.

Pekerja muda kini jauh lebih selektif dalam menyaring budaya kerja dan visi misi korporasi. Banyak di antara mereka yang enggan bertahan di lingkungan kerja yang bertolak belakang dengan nilai personal yang mereka anut.

Sikap tegas tersebut memicu gelombang resign kilat, terutama saat manajemen dinilai mengabaikan kesejahteraan psikologis pegawai. Laporan lain memperlihatkan Gen Z mengutamakan kepuasan kerja serta keseimbangan hidup di atas loyalitas konvensional.

Bagi mereka, pekerjaan bukan lagi menjadi poros utama identitas hidup, melainkan instrumen yang harus sejalan dengan urusan pribadi. Pola pikir ini melahirkan fenomena baru seperti quiet quitting, resenteeism, hingga penolakan kerja lembur tanpa kompensasi.

Faktor Pengembangan Kompetensi

Meskipun sering dicap mudah mengundurkan diri, motif utama kepindahan mereka ternyata bukan melulu persoalan besaran upah. Riset dari Youngstown State University menunjukkan sebanyak 46 persen pekerja Gen Z bersedia resign demi mendapatkan peluang akselerasi karier yang lebih baik.

Para pekerja muda ini aktif mencari korporasi yang memfasilitasi program pelatihan, kejelasan jenjang karier, beasiswa pendidikan, hingga fleksibilitas keterampilan.

"Ketika kesempatan berkembang terbatas, pekerja mulai mempertimbangkan untuk pergi," demikian isi laporan tersebut.

Pete Freeman dari Youngstown State University mengonfirmasi bahwa mayoritas pekerja muda telah menyiapkan rencana keluar jika perusahaan menutup ruang pertumbuhan.

"46 persen Gen Z bersedia resign demi kemajuan karier yang lebih baik," ujar Freeman.

Faktor nominal gaji terbukti bukan menjadi pemicu paling utama dalam pengambilan keputusan tersebut. Pengalaman kerja kini diposisikan sebagai wadah aktualisasi diri dan peningkatan kompetensi, bukan sekadar alat pencari nafkah.

Evolusi Makna Loyalitas

Di balik tingginya mobilitas kerja, sejumlah data mengindikasikan bahwa para pekerja muda ini tetap mendambakan stabilitas dengan definisi yang baru. Studi Admiral menemukan sebanyak 75 persen Gen Z menginginkan pekerjaan yang aman dan memproyeksikan masa kerja hingga tujuh tahun di satu perusahaan.

Namun, ekspektasi bertahan lama tersebut diiringi syarat perubahan peran, peningkatan keahlian, serta tantangan baru di internal perusahaan. Mereka lebih tertarik pada konsep employer for life dibandingkan job for life.

Hal ini berarti talenta muda tetap membuka peluang kerja jangka panjang dengan satu instansi, asalkan pihak manajemen mampu menghadirkan fleksibilitas dan ruang bertumbuh.

Tantangan Manajemen Perusahaan

Pergeseran perilaku kerja ini memaksa para pelaku industri memutar otak guna merumuskan ulang strategi pengelolaan karyawan. Survei Gateway Commercial Finance mencatat 36 persen manajer perekrutan sempat menghindari kandidat Gen Z karena rekam jejak kutu loncat mereka.

Sebanyak 25 persen perekrut juga memandang riwayat kerja yang singkat sebagai alarm peringatan dalam fase rekrutmen. Kendati demikian, para ahli menilai pola pendekatan korporasi yang harus bertransformasi demi mempertahankan talenta muda.

Penelitian mengenai retensi milenial dan Gen Z di ResearchGate menegaskan bahwa ikatan emosional menjadi aspek paling krusial untuk memupuk loyalitas pekerja muda. Program keterlibatan karyawan, sistem komunikasi internal yang interaktif, serta ruang pengembangan personal efektif menekan angka turnover pegawai.

Rasa memiliki terhadap organisasi serta kepuasan kerja terbukti memberikan dampak signifikan pada keputusan karyawan untuk bertahan. Hubungan kerja kini diukur berdasarkan kualitas pengalaman, peluang karier, serta keseimbangan hidup yang disediakan oleh penyedia kerja.

Artikel terkait

Rekomendasi