Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Haji dan Umrah memberikan pelayanan langsung bagi jamaah haji setibanya di Bandara King Abdulaziz, Arab Saudi. Aksi nyata ini dilakukan untuk menyambut kedatangan rombongan di paviliun kedatangan.
Dilansir dari Cahaya, komitmen tersebut diwujudkan melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Fokus utamanya adalah menghadirkan layanan haji yang ramah terhadap lansia, disabilitas, dan perempuan pada musim haji 2026.
Sekretaris Jenderal Kementerian Haji dan Umrah RI Teguh Dwi Nugroho turun langsung melayani jamaah bersama Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah Puji Raharjo. Keduanya terlihat membantu mobilitas jamaah yang baru keluar dari pemeriksaan imigrasi.
Sejumlah pimpinan PPIH lainnya turut mendampingi dalam penyambutan ini, mulai dari Kabid Ops Armuzna dan Linjam Laksamana Pertama Harun Arrasyid Usman hingga Kepala Daker Bandara Abdul Basir. Hadir pula Kepala Daker Makkah Ihsan Faisal serta Kabid Media Center Haji (MCH) Ichsan Marsha.
Suasana tertib terlihat saat petugas dari Grup 2 mengatur arus jamaah menuju paviliun. Teguh dan Puji menyapa langsung para jamaah, termasuk saat Kloter 14 Embarkasi Banjarmasin mendarat di Tanah Suci.
"Bapak dan ibu ingat yah, jaga kesehatan sebelum puncak haji," katanya kepada jamaah haji dari Kloter 14 Embarkasi Banjarmasin.
Setelah seluruh rombongan berkumpul, para pejabat tinggi ini memimpin proses pendorongan kursi roda bagi jamaah yang membutuhkan bantuan. Langkah ini menunjukkan kesiapan petugas dalam mendampingi jamaah di setiap tahapan.
Teguh Dwi Nugroho menyatakan bahwa proses kedatangan jamaah haji Indonesia di Arab Saudi berjalan sesuai rencana hingga pertengahan Mei 2026. Evaluasi berkala terus dilakukan untuk memastikan standar pelayanan tetap terjaga.
ÔÇ£Alhamdulillah seluruh proses yang direncanakan sejak keberangkatan di embarkasi berjalan baik dan lancar. Para jamaah yang tiba di Arab Saudi selanjutnya langsung diberangkatkan ke hotel untuk melaksanakan umrah wajib,ÔÇØ ujarnya.
Teguh juga memberikan apresiasi terhadap koordinasi di seluruh embarkasi haji Indonesia. Kelancaran proses pemberangkatan dinilai menjadi modal krusial sebelum memasuki fase puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Fokus Layanan Ramah Lansia dan Inklusif
Tantangan besar dalam penyelenggaraan haji tahun ini adalah tingginya jumlah jamaah lansia yang berangkat tanpa pendamping keluarga. Menanggapi hal tersebut, pemerintah telah membekali petugas dengan pelatihan intensif selama lebih dari satu bulan.
ÔÇ£Kami sudah melakukan pelatihan kepada para petugas haji selama satu bulan lebih secara langsung dan tambahan pelatihan daring. Alhamdulillah laporan yang kami terima, petugas mampu membantu jamaah yang tidak memiliki pendamping sehingga mereka tetap merasa aman dan nyaman,ÔÇØ katanya.
Direktur Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Puji Raharjo, menekankan bahwa kelompok berkebutuhan khusus menjadi prioritas. Hal ini sejalan dengan meningkatnya jumlah jamaah yang memerlukan perhatian ekstra setiap tahunnya.
ÔÇ£Ini bagian dari komitmen kita untuk memuliakan saudara-saudara kita yang memang harus mendapatkan prioritas,ÔÇØ ujar Puji Raharjo.
Mengingat lebih dari 54 persen jamaah adalah perempuan, pemerintah menambah jumlah petugas haji perempuan hingga lebih dari 10 persen. Keberadaan bidang khusus layanan lansia dan disabilitas juga memperkuat pendampingan teknis serta ibadah.
ÔÇ£Petugas haji perempuan naik lebih dari 10 persen dibanding tahun sebelumnya. Karena perempuan tentu akan lebih nyaman dilayani oleh perempuan,ÔÇØ katanya.
ÔÇ£Kalau semuanya nyaman dan lancar, tentu akan meningkatkan kemabruran jamaah haji,ÔÇØ ujarnya.
Apresiasi dari Komisi Nasional Disabilitas
Komitmen pelayanan inklusif ini mendapat sorotan positif dari Komisi Nasional Disabilitas (KND). Wakil Ketua KND RI, Deka Kurniawan, mengamati langsung keseriusan pemerintah dalam mempersiapkan petugas di lapangan.
ÔÇ£Kami melihat langsung bagaimana komitmen Kementerian Haji dalam mempersiapkan petugas agar mampu melayani jamaah penyandang disabilitas, lansia, dan perempuan,ÔÇØ kata Deka.
Deka menjelaskan bahwa konsep haji inklusif tahun 2026 merupakan pengembangan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya. Layanan kini tidak hanya berfokus pada usia, tetapi meluas ke aspek gender dan kebutuhan fisik khusus.
ÔÇ£Ini bukan sekadar tugas jabatan, tetapi ada nilai teologis di dalamnya. Melayani jamaah rentan diyakini menjadi jalan keberkahan dan kelancaran penyelenggaraan haji,ÔÇØ ujarnya.