Sejumlah pedagang es teh gentong di RW 07 Manggarai, Jakarta Selatan, berencana menaikkan harga jual akibat lonjakan harga bahan baku pada Rabu (29/4/2026). Langkah ini diambil untuk mengamankan margin keuntungan yang semakin tergerus oleh kenaikan harga plastik pembungkus dan sedotan di pasar.
Kenaikan biaya operasional ini berdampak langsung pada pendapatan harian para pelaku usaha mikro tersebut. Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, para pedagang rata-rata hanya mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 40.000 per hari dari penjualan 50 plastik es teh.
Yuli Yanti, salah satu pedagang yang sudah memulai usahanya sejak belasan tahun lalu, menjelaskan bahwa bisnis kecil ini merupakan pilar penting bagi keuangan keluarganya. Ia mengandalkan penjualan harian untuk membantu suaminya, terutama saat kondisi kesehatan sang suami menurun.
"Sejak tahun 2008, setelah menikah sampai akhirnya punya anak, sambil bantu perekonomian suami," ungkap Yuli saat ditemui di warungnya di Manggarai, Rabu (29/4/2026).
Yuli merinci adanya kenaikan harga yang signifikan pada komponen pengemasan yang sebelumnya jauh lebih terjangkau. Beban biaya plastik bening yang digunakan setiap hari mengalami lonjakan hingga 50 persen dari harga normal.
"Iya benar, harga plastik lagi mahal, sampai yang tadi harganya Rp 10.000 per pax, naik jadi Rp 15.000," ujar Yuli.
Pedagang lainnya, Aas, juga merasakan tekanan serupa terkait pengeluaran harian untuk modal berjualan. Selain plastik, ia harus mengalokasikan dana lebih besar untuk pembelian sedotan, gula pasir, dan es batu kristal yang harganya terus merangkak naik.
"Plastik aja harganya Rp 15.000, sehari bisa habis dua pax, untuk plastik Rp 30.000," kata Aas.
Aas menyatakan bahwa kenaikan harga jual kepada pelanggan menjadi opsi yang tidak terhindarkan untuk menjaga kelangsungan usahanya. Meski demikian, ia berkomitmen untuk tidak mengganti bahan baku utama dengan pemanis buatan yang lebih murah.
"Pengin naikin harga es teh, paling Rp 3.000 naiknya," ujar Aas.
Respons dari sisi konsumen menunjukkan adanya toleransi terhadap rencana penyesuaian harga tersebut. Yati, seorang warga setempat yang rutin membeli minuman tersebut, mengaku tetap akan membeli karena sudah menjadi kebutuhan harian bagi keluarganya.
"Mau naik atau apa namanya kalau sudah faktor kebutuhan sih ya dibeli-beli aja sih sebenarnya kan di sini," kata Yati.
Senada dengan Yati, pelanggan lain bernama Juju menilai harga es teh di kawasan Manggarai masih sangat kompetitif jika dibandingkan dengan penjual di lokasi lain. Perbedaan harga yang cukup jauh membuat rencana kenaikan Rp 1.000 dianggap masih dalam batas wajar.
"Setuju aja sih, karena kan di sini harganya masih murah banget cuma Rp 2.000 seplastik, di luar es teh manis paling murah Rp 5.000," ujarnya.
Dari perspektif kesehatan, dokter spesialis gizi klinik RS Pondok Indah, Liliana, memberikan catatan mengenai konsumsi es teh manis. Ia menekankan pentingnya mengontrol asupan gula agar tidak menimbulkan ketergantungan atau masalah metabolisme di masa depan.
"Semakin lama, maka akan terbentuk kebiasaan minum atau makan apapun harus dengan gula," kata Liliana.
Liliana juga mengingatkan risiko gangguan kesehatan lainnya jika minuman dikonsumsi pada suhu ekstrem atau dalam jumlah yang berlebihan. Selain memperhatikan suhu air, kadar kafein harian juga perlu diperhatikan agar tidak mengganggu pola tidur atau memicu kecemasan.
"Namun, hal ini masih termasuk aman selama tidak ada masalah kesehatan sebelumnya, seperti penyakit refluks pencernaan (GERD)," ujar Liliana.
Liliana menambahkan penjelasannya mengenai batasan asupan kafein yang ideal bagi orang dewasa. Ia menyarankan masyarakat untuk tetap waspada terhadap efek samping jika mengonsumsi minuman berkafein melampaui batas yang dianjurkan secara medis.
"Batas aman kafein sekitar 400 miligram sehari atau 200 miligram sekali minum," kata Liliana.