Keberadaan masyarakat yang sepenuhnya terputus dari peradaban modern ternyata masih nyata ditemukan di kedalaman hutan Amazon. Fakta mengejutkan ini terungkap melalui dokumentasi terbaru yang dibagikan oleh seorang pengarang sekaligus konservasionis, Paul Rosolie.
Dilansir dari Detik iNET, Rosolie yang telah mendedikasikan 20 tahun hidupnya di Amazon menceritakan momen langka sekaligus berbahaya saat bertemu suku primitif tersebut dalam podcast milik Alex Fridman. Ia mengungkapkan bahwa rombongannya sempat berada dalam situasi hidup dan mati saat berhadapan dengan kelompok yang belum pernah menjalin kontak dengan dunia luar.
"Video ini belum pernah diperlihatkan dimanapun, ini yang pertama di dunia," kata Rosolie.
Proses perekaman dilakukan dengan sangat hati-hati menggunakan lensa 800mm dan 2X teleconverter dari jarak sekitar 100 meter. Dalam rekaman tersebut, terlihat sekelompok orang muncul di tepian pantai dengan pergerakan yang sangat terkoordinasi dan penuh kewaspadaan terhadap kehadiran orang asing.
Ketegangan memuncak saat anggota suku tersebut terlihat membawa senjata tradisional berupa tombak dan panah. Rosolie mengaku sempat mengantisipasi kemungkinan terjadinya serangan fisik atau hujan anak panah ke arah rombongannya.
"Saya melihat ke segala arah untuk memperkirakan akan dipanah dari arah mana," kata dia.
Situasi yang semula mencekam perlahan mencair ketika jarak antar kedua kelompok semakin dekat. Para anggota suku tersebut mulai menurunkan senjata busur mereka, dan raut wajah penuh ancaman berubah menjadi ekspresi penuh rasa ingin tahu yang besar.
"Mereka ini seperti para prajurit suku mereka. Mereka tampak siap perang, namun lalu mereka berdiri lebih santai dan senyum-senyum," kata Rosolie.
Untuk meredakan suasana, rombongan Rosolie memutuskan untuk menghanyutkan sebuah perahu kecil yang berisi tumpukan pisang sebagai tanda perdamaian. Tindakan ini disambut baik oleh para anggota suku yang langsung berebutan mengambil buah tersebut sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam lebatnya hutan.
Pengalaman yang dialami Rosolie ini tergolong sangat beruntung jika dibandingkan dengan insiden tragis yang menimpa John Allen Chau pada tahun 2018. Misionaris berusia 26 tahun itu tewas setelah mencoba menjalin kontak dengan suku Sentinel di Pulau Sentinel Utara, India, sebuah wilayah yang dilarang keras untuk dikunjungi oleh pemerintah setempat.
Hingga saat ini, para ilmuwan memperkirakan masih terdapat sekitar 200 kelompok masyarakat terisolasi yang tersebar di wilayah hutan hujan Amazon antara Brasil dan Peru. Karena tingginya risiko kontak langsung, pengawasan terhadap komunitas-komunitas ini biasanya dilakukan melalui citra satelit, pemantauan udara, atau berdasarkan kesaksian dari suku tradisional lain di sekitar wilayah tersebut.