Penilaian karya seni rupa di pasar Indonesia dinilai masih menempatkan nilai ekonomi di atas nilai simbolik, sebuah kondisi yang dipicu oleh minimnya daya beli domestik. Dilansir dari Lifestyle, tren ini belum mampu mendorong pertumbuhan permintaan yang signifikan bagi ekosistem seni nasional pada awal 2026.
Ketimpangan dalam cara menilai karya ini dipandang sebagai dampak dari fenomena lonjakan pasar atau boom yang terjadi pada pertengahan 2000-an. Kurator seni rupa Aminudin TH Siregar menyebutkan bahwa orientasi pada aspek finansial kini jauh lebih dominan dibandingkan apresiasi terhadap kedalaman makna karya.
"Dalam literatur pasar seni, nilai ekonomi dan nilai simbolik harus berjalan seimbang. Di kita, yang dominan justru nilai ekonomi," ujar Aminudin TH Siregar, Kurator Seni Rupa.
Penekanan pada aspek ekonomi ini telah mengubah cara pasar dalam memaknai sebuah karya. Aminudin menambahkan bahwa faktor sejarah serta posisi karya dalam perkembangan seni rupa secara luas sering kali tidak mendapatkan perhatian yang semestinya dari para kolektor atau pembeli.
"Jadi kemampuan ekonomi rata-rata di negara itulah yang menentukan," kata Enin Supriyanto, Direktur Artistik Art Jakarta.
Situasi di Indonesia ini cukup kontras dengan dinamika di pasar internasional, di mana audiens global lebih menitikberatkan pada narasi dan konteks sosial. Hal ini terlihat dari perbedaan respons positif terhadap karya seniman Indonesia di forum luar negeri yang menghargai latar belakang penciptaan karya.
Berdasarkan data Art Basel & UBS Global Art Market Report 2026, nilai penjualan pasar seni global mencapai US$59,6 miliar pada 2025. Pertumbuhan ini didominasi oleh aktivitas lelang publik yang kinerjanya melampaui dealer setelah sebelumnya mengalami penurunan selama dua tahun berturut-turut.
Di tingkat nasional, gairah pasar ditunjukkan melalui penyelenggaraan pameran Art Jakarta Papers dan Art Jakarta Gardens pada awal 2026. Meskipun aktivitas pameran meningkat, penguatan mekanisme pasar dalam menentukan standar nilai karya secara objektif dinilai belum berjalan optimal.