Kawasan Senopati, Jakarta Selatan, kembali menjadi sorotan akibat kemacetan parah yang terus terjadi, terutama saat memasuki waktu malam. Tersendatnya arus lalu lintas di sepanjang Jalan Gunawarman hingga Jalan Suryo dilaporkan bersumber dari maraknya praktik parkir di bahu jalan dan trotoar.
Dikutip dari Otomotif, masyarakat setempat mengeluhkan kondisi ini yang sudah berlangsung dalam waktu lama tanpa solusi permanen. Kendaraan yang memenuhi sisi jalan, termasuk operasional layanan valet dari berbagai tempat hiburan, mempersempit ruang gerak kendaraan lain dan memicu antrean panjang.
Masalah ini diperparah oleh keterbatasan lahan parkir yang dimiliki oleh pelaku usaha di lokasi tersebut. Banyak pengunjung yang membawa kendaraan pribadi terpaksa diarahkan ke area yang tidak semestinya, termasuk trotoar jalan, karena kapasitas parkir internal bangunan yang sangat minim.
Setelah petugas gabungan meninggalkan Senopati Jaksel, mobil-mobil kembali diparkirkan di trotoar jalan pada Rabu (22/4/2026) malam.
Ketua Asosiasi Parkir Indonesia, Rio Octaviano, berpendapat bahwa persoalan di Senopati bukan merupakan kasus tunggal di ibu kota. Fenomena ini juga ditemukan di berbagai titik lain di Jakarta yang tumbuh pesat sebagai pusat komersial namun tidak dibarengi dengan penyediaan lahan parkir yang memadai.
"Sebetulnya Senopati hanya satu dari beberapa titik di Jakarta yang memiliki banyak usaha tapi tidak memiliki lahan parkir," ujar Rio kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2026).
Guna mengatasi hal tersebut, Dinas Perhubungan DKI Jakarta saat ini tengah melakukan koordinasi intensif dengan Asosiasi Parkir Indonesia. Langkah-langkah penanganan yang sedang disusun nantinya akan dilaporkan langsung kepada Gubernur DKI Jakarta sebagai dasar pengambilan kebijakan strategis.
"Saat ini Kepala Dinas Perhubungan yang baru sedang menindaklanjuti permasalahan parkir ini bekerja sama dengan IPA, dan kemudian akan disampaikan kepada Gubernur," kata Rio.
Pemerintah daerah dilaporkan telah memberikan perhatian khusus terhadap isu penataan parkir ini. Pembahasan mendalam terus dilakukan karena penanganan masalah transportasi di kawasan padat usaha memerlukan solusi komprehensif yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.
"Gubernur melalui stafsusnya sebetulnya sudah concern, dan akan melakukan pembahasan intensif tentang ini, karena memang solusinya harus komprehensif dan melibatkan banyak pihak," ujar Rio.
Sebagai bagian dari upaya pencarian solusi, sebuah diskusi terbatas dijadwalkan akan digelar pada Mei mendatang. Pertemuan tersebut direncanakan bakal mengupas tuntas persoalan teknis perparkiran sekaligus kaitannya dengan standar keselamatan jalan di wilayah perkotaan.
"Kami berencana Mei ini akan melakukan diskusi terbatas tentang ini dan keselamatan jalan," kata Rio.