ParagonCorp menyelenggarakan inisiatif bertajuk Her Strength, Her Light di Wisma Habibie & Ainun, Jakarta, pada Senin (20/4/2026) guna memperingati Hari Kartini. Acara ini menghadirkan tokoh lintas bidang untuk mendiskusikan peran perempuan dalam menciptakan ruang aman bagi pertumbuhan sesama.
Diskusi tersebut menghadirkan Retno Marsudi, dr. Sari Chairunnisa, Nadia Habibie, Nikita Willy, dan Susi Susanti sebagai perwakilan wajah Kartini masa kini. Dilansir dari Wolipop, pertemuan ini menyoroti berbagai tantangan mulai dari diplomasi, bisnis, hingga prestasi olahraga nasional.
Mantan Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi, mengawali sesi dengan membagikan nilai-nilai dasar yang ia peroleh dari lingkungan keluarga. Ia menekankan bahwa kekuatan prinsip menjadi modal utama dalam menghadapi rintangan karier di dunia diplomasi.
"Saya tumbuh kembang dari keluarga yang sederhana tapi dari situ lah muncul prinsip nilai yang kuat. Sehingga saya harus terus maju dan kuat kan badan kita. Kalau saya kuat dan kuatkan kita sendiri," kata Retno Marsudi, Mantan Menteri Luar Negeri RI.
Susi Susanti, legenda bulu tangkis peraih medali emas Olimpiade, menceritakan pengalamannya menghadapi stigma gender di dunia olahraga. Ia mengenang masa-masa sulit saat atlet putri belum mendapatkan kesempatan yang setara dengan atlet laki-laki.
"Dunia olahraga itu imejnya selalu laki-laki. Sempat buat saya sendiri sebagai seorang atlet bukan anak tiri ya secara prestasi belum terlalu menonjol. Sempat merasa ragu, karena kesempatan selalu diberikan oleh laki-laki sempat kita tidak diberangkatkan juga (untuk tanding)," kenang Susi Susanti, Atlet Bulu Tangkis.
Meski sempat berada di bawah tekanan, Susi berhasil membuktikan kemampuannya melalui dukungan pelatih wanita dan tekad yang kuat. Ia menegaskan bahwa mimpi dan kemauan keras mampu mendobrak batasan yang ada.
"Ada sedikit tekanan dan saya yakin kita pasti bisa. Salah figur ibu, pelatih saya juga wanita dan oke kita tidak dapat kesempatan mungkin step bu step tidak langsung menang. Yang tadinya tidak dianggap, tapu dengan semangat dan kemauan dan mimpi kita pasti bisa dan ternyata kita bisa memberikan yang terbaik. Mulai dari Asian Games hingga dunia. Pertama kali putri asal Indonesia bisa mendapatkan medali emas untuk Indonesia," ujar Susi Susanti, Atlet Bulu Tangkis.
Dari sisi manajerial, Deputy CEO ParagonCorp, dr. Sari Chairunnisa, mengungkapkan bahwa keraguan diri sering muncul dalam perjalanan profesionalnya. Dukungan sistem kerja yang baik membantunya untuk terus memberdayakan satu sama lain.
"Momen ragu itu pasti ada bahkan sering. Pertama itu, saya punya pikiran perusahaan itu kan harus sesuai dengan background dan dermatologis itu bisa kah? Untungnya saya mempunyai support system dan mau mencoba dulu. Satu sisi, momen ragu itu kita bisa belajar untuk tidak sombong dan empowering satu sama lain," jelas dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO ParagonCorp.
Selebritas Nikita Willy turut mengakui tantangan untuk tetap percaya diri di tengah ekspektasi publik yang besar. Ia berusaha keluar dari zona nyaman tanpa harus menanggalkan jati diri aslinya.
"Saya sering merasa ragu, bisa gak ya aku ngomong di antara wanita hebat. Sering banget ada tapi aku berusaha untuk tidak ragu untuk mencoba, tumbuh dan keluar dari zona nyaman," ujar Nikita Willy, Aktris.
Nikita menambahkan bahwa pengalamannya di dunia hiburan sejak usia dini memberikan pelajaran penting tentang bagaimana menghadapi atensi massa. Saat ini, fokus utamanya telah bergeser ke arah keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga.
"Aku merasa beruntung ketika di depan publik aku tidak perlu menjadi sosok lain agar tidak mendapatkan atensi publik. Karena aku sudah di hiburan sejak kecil, ada fase dimana belum selesai dengan diri sendiri dan publik juga pasti tahu," tambah Nikita Willy, Aktris.
Nikita kemudian menjelaskan lebih lanjut mengenai keputusannya dalam mengambil prioritas hidup setelah berkeluarga.
"Benar-benar tidak ada setop, ketika menikah aku bisa mengambil pilihan. Ingin mengambil jeda dan lanjut lagi. Prioritasnya sekarang lebih ke keluarga," terangnya Nikita Willy, Aktris.
Nadia Sofia Habibie, cucu Presiden ke-3 RI, menutup diskusi dengan refleksi mengenai tanggung jawab atas hak istimewa yang dimilikinya. Ia diajarkan untuk berproses secara bertahap dalam mencapai sesuatu.
"Jujur berat untuk bisa mendelegasikan dari kedua orang tua saya mereka melakukan apapun sendiri. Misalnya bapak saya masih sering ke supermarket dan ibu saya sering memberikan rumah dengan vakum. Orang tua saya mengajarkan untuk step by step dan tidak loncat. Untuk menjadi seseorang harus terus belajar," ungkap Nadia Sofia Habibie, Cucu B.J. Habibie.
Nadia menyadari bahwa nama besar keluarga merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang harus diwujudkan dalam aksi nyata. Hal ini ia salurkan melalui karya literasi yang berfokus pada keberlanjutan lingkungan.
"Sekitar 5-6 tahun saya baru sadar bahwa previlege ini harus dipertanggungjawabkan. Ternyata saat saya membuat buku tentang suistability dan bisa berdampak untuk masyarakat," pungkas Nadia Sofia Habibie, Cucu B.J. Habibie.