Umat Islam menjalankan ibadah sholat Maghrib sebanyak tiga rakaat pada waktu matahari mulai terbenam di sore hari, Rabu (15/4/2026), sebagai bentuk pemenuhan kewajiban fardhu. Pelaksanaan ibadah ini didasari oleh ketentuan dalam Al-Qur'an mengenai perintah mendirikan sholat dan menunaikan zakat secara berjamaah.
Kewajiban menjalankan sholat fardhu bagi umat Muslim tersebut tercantum dalam surah Al Baqarah ayat 43, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Ayat tersebut menjadi landasan hukum utama dalam pelaksanaan ibadah rutin harian tersebut.
"Tegakkanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." tulis teks tersebut mengutip terjemahan Al-Qur'an.
Perintah ini menegaskan pentingnya posisi sholat dalam agama Islam. Dalam pelaksanaannya, bacaan niat dibedakan berdasarkan kondisi orang yang menjalankan ibadah tersebut, baik secara mandiri maupun bersama-sama.
"Saya niat melakukan sholat fardhu Maghrib tiga rakaat menghadap kiblat, pada waktunya karena Allah Ta'ala." bunyi niat bagi individu yang sholat sendiri.
Perbedaan redaksi niat terjadi ketika seseorang bertindak sebagai pemimpin sholat atau makmum dalam sebuah kelompok. Hal ini berkaitan dengan status posisi jamaah dalam ibadah tersebut.
"Saya niat melakukan sholat fardhu Maghrib tiga rakaat menghadap kiblat sebagai imam, pada waktunya karena Allah Ta'ala." bunyi niat untuk posisi imam.
Bagi pengikut atau orang yang dipimpin dalam sholat berjamaah, terdapat redaksi khusus yang harus dibaca di dalam hati. Niat ini diucapkan bersamaan dengan gerakan awal sholat.
"Saya niat melakukan sholat fardhu Maghrib tiga rakaat menghadap kiblat sebagai makmum, pada waktunya karena Allah Ta'ala." bunyi niat untuk posisi makmum.
Prosesi ibadah dimulai dengan gerakan takbiratul ihram yang diikuti oleh pembacaan doa iftitah. Doa ini mengandung pengakuan atas kebesaran Tuhan dan penyerahan diri secara total dari seorang hamba.
"Allah Maha Besar, maha sempurna kebesaran-Nya. Segala puji bagi Allah, pujian yang sebanyak- banyaknya. Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan petang. Kuhadapkan wajahku kepada zat yang telah menciptakan langit dan bumi dengan penuh ketulusan dan kepasrahan dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku semuanya untuk Allah, penguasa alam semesta. Tidak ada sekutu bagi-Nya dan dengan demikianlah aku diperintahkan dan aku termasuk orang-orang yang muslim." bunyi teks doa iftitah.
Setelah itu, jamaah melanjutkan gerakan ke posisi rukuk untuk menunjukkan ketundukan. Pada posisi ini, terdapat bacaan khusus yang mengagungkan sifat Tuhan.
" Maha Suci Rabbku yang maha Agung dan maha terpuji." bunyi bacaan rukuk.
Gerakan berlanjut ke posisi berdiri tegak atau i'tidal setelah rukuk dilakukan. Ibadah ini melibatkan serangkaian pujian yang memenuhi ruang langit dan bumi.
"Allah mendengar orang yang memuji-Nya." bunyi kalimat awal i'tidal.
Pujian tersebut kemudian dilanjutkan dengan ungkapan syukur yang lebih mendalam atas segala kehendak Tuhan. Hal ini dilakukan sebelum beranjak ke posisi sujud.
"Ya Allah Tuhan Kami, Bagi-Mu lah segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu." bunyi kelanjutan doa i'tidal.
Pada posisi sujud, umat Islam melafalkan pengakuan terhadap kesucian Tuhan Yang Mahatinggi. Gerakan ini dilakukan dua kali pada setiap rakaat sholat.
"Mahasuci Rabbku Yang Mahatinggi dan pujian untuk-Nya (HR. Abu Daud)" bunyi bacaan sujud.
Di antara dua sujud, terdapat momen duduk untuk memohon ampunan dan keberkahan hidup. Permohonan ini mencakup aspek perlindungan, rezeki, hingga pengangkatan derajat bagi orang yang berdoa.
"Ya Allah, ampunilah dosaku, rahmatilah aku, perbaikilah aku, berikanlah aku rezeki dan angkatlah derajatku." bunyi doa duduk di antara dua sujud.
Rangkaian sholat Maghrib ditutup dengan tasyahud akhir dan pemberian salam ke arah kanan serta kiri. Bagian penutup ini juga mengandung penghormatan kepada Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim.
"Segala kehormatan, dan keberkahan, kebahagiaan dan kebaikan itu punya Allah. Keselamatan atas Nabi Muhammad, juga rahmat dan berkahnya. Keselamatan dicurahkan kepada kami dan atas seluruh hamba Allah yang sholeh. Aku bersaksi tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad." bunyi bacaan tasyahud awal.
Pemberian rahmat tersebut kemudian diperluas hingga mencakup keluarga para nabi dalam bacaan tasyahud akhir. Hal ini merupakan bentuk selawat yang diajarkan dalam syariat.
"Ya Allah. Limpahilah rahmat atas keluarga Nabi Muhammad. Sebagaimana pernah Engkau beri rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkah atas Nabi Muhammad beserta para keluarganya. Sebagaimana Engkau memberi berkah kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Di seluruh alam semesta Engkaulah yang terpuji, dan Maha Mulia" bunyi tambahan selawat pada tasyahud akhir.
Seluruh rangkaian ibadah tiga rakaat tersebut diakhiri dengan ucapan salam sebagai tanda selesainya sholat fardhu. Ucapan ini merupakan doa keselamatan bagi sesama.
"Semoga keselamatan dan rahmat Allah dilimpahkan kepadamu." bunyi bacaan salam.