Umat Islam Laksanakan Puasa Daud untuk Raih Keutamaan Ibadah

Umat Islam Laksanakan Puasa Daud untuk Raih Keutamaan Ibadah
Foto: Ilustrasi Umat Islam Laksanakan Puasa Daud untuk Raih Keutamaan Ibadah.

Umat Islam menjalankan ibadah puasa Daud pada Minggu, 19 April 2026, sebagai salah satu amalan sunnah yang memiliki kedudukan istimewa berdasarkan anjuran Nabi Muhammad SAW. Pola ibadah ini dilakukan secara bergantian dengan skema satu hari berpuasa dan satu hari tidak berpuasa secara selang-seling.

Metode pelaksanaan ini dinisbatkan kepada Nabi Daud AS yang dikenal sebagai hamba Allah dengan ketekunan ibadah tinggi namun tetap menjaga keseimbangan duniawi, sebagaimana dilansir dari Detikcom. Karakteristik unik ini membedakan puasa Daud dengan jenis puasa sunnah lainnya dalam ajaran Islam.

Dalam tinjauan hadits, Rasulullah SAW memberikan penegasan mengenai derajat kemuliaan ibadah ini bagi para pengikutnya.

"Sebaik-baik salat di sisi Allah adalah salatnya Nabi Daud 'alaihis salam. Dan sebaik-baik puasa di sisi Allah adalah puasa Daud. Nabi Daud dahulu tidur di pertengahan malam dan beliau salat di sepertiga malamnya dan tidur lagi di seperenamnya. Adapun puasa Daud yaitu puasa sehari dan tidak berpuasa di hari berikutnya." ujar Rasulullah SAW dalam riwayat Bukhari.

Penjelasan mengenai tata cara pelaksanaan menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan teknis mendasar antara puasa Daud dengan puasa Ramadan. Pelaku ibadah tetap dianjurkan menjalankan amalan sunnah seperti mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka saat masuk waktu Magrib.

Terkait batasan perilaku selama berpuasa, Nabi Muhammad SAW memberikan arahan mengenai fungsi ibadah tersebut sebagai pelindung diri.

"Puasa itu adalah perisai. Oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata-kata kotor dan jangan pula berlaku bodoh. Jika ada orang yang memerangi atau mencacinya, maka hendaklah ia mengatakan, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa' (sebanyak dua kali). Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah Ta'ala daripada aroma minyak kasturi, di mana dia meninggalkan makanan, minuman, dan nafsu syahwatnya karena Aku (Allah). Puasa itu untuk-Ku, dan Aku akan memberikan pahala karenanya, dan satu kebaikan itu dibalas with sepuluh kali lipatnya." tutur Rasulullah SAW melalui riwayat Abu Hurairah.

Selain sebagai pelindung, puasa juga menjadi akses khusus bagi orang-orang beriman untuk memasuki surga melalui jalur tertentu pada hari kiamat nanti.

"Sesungguhnya, di dalam surga itu terdapat sebuah pintu yang bernama Rayyan. Orang-orang yang berpuasa akan masuk lewat pintu itu pada hari kiamat. Tidak ada orang selain mereka yang masuk bersama mereka. Ditanyakan, 'Di mana orang-orang yang puasa?' Kemudian, mereka masuk lewat pintu tersebut. Ketika orang yang terakhir dari mereka sudah masuk, maka pintu itu ditutup kembali, dan tidak ada seorang pun yang akan masuk lewat pintu itu." papar Rasulullah SAW dalam riwayat Bukhari dan Muslim.

Keistimewaan lain yang melekat pada ibadah ini adalah pemberian pahala yang bersifat langsung dan rahasia antara hamba dengan Tuhannya tanpa batasan tertentu.

"Allah berfirman, 'Semua amalan Bani Adam untuknya, kecuali puasa (pahalanya tak terbatas). Puasa itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Puasa adalah perisai. Jika salah seorang kalian sedang berpuasa, janganlah berkata keji dan berteriak-teriak. Jika ada orang yang mencercanya atau memeranginya, ucapkan, 'Aku sedang berpuasa.' Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau misik. Orang yang berpuasa punya dua kegembiraan; jika berbuka gembira, jika bertemu dengan Rabb-nya gembira karena puasa yang ia lakukan." jelas Rasulullah SAW dalam hadits qudsi.

Besaran pelipatgandaan pahala tersebut ditegaskan kembali dalam riwayat lain yang menunjukkan kemurahan kasih sayang Allah SWT terhadap pelaku puasa.

"Semua amalan Ibnu Adam dilipatgandakan, kebaikan dibalas dengan sepuluh kali, sampai tujuh ratus kali lipat. Allah SWT berfirman, 'Kecuali puasa, karena ia itu untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya, dan ia meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku. Bagi orang yang berpuasa, ada dua kegembiraan; gembira ketika berbuka, dan gembira saat bertemu dengan Rabbnya, dan sungguh bau mulut orang yang puasa di sisi Allah adalah lebih wangi daripada bau misik." ungkap Rasulullah SAW dalam riwayat Muslim.

Manfaat ibadah ini terus berlanjut hingga hari akhir di mana puasa akan hadir memberikan pembelaan bersama dengan kitab suci Al-Qur'an.

"Puasa dan al-Qur'an akan memberikan syafaat kepada seorang hamba pada hari kiamat. Puasa akan berkata, 'Wahai Rabbku, aku menghalanginya dari makan dan syahwat, berilah ia syafaat karenaku.' Al-Qur'an pun berkata, 'Aku telah menghalanginya dari tidur pada malam hari, berilah ia syafaat.' Maka, keduanya memberi syafaat." kata Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan Ahmad dan Hakim.

Sebagai pelengkap hukum, puasa juga diatur dalam kitab suci sebagai bentuk penebusan atau pengganti amalan yang tidak sempat tertunaikan dalam kondisi khusus.

"...Tetapi, jika ia tidak menemukan (binatang kurban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna...." tulis firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah ayat 196.

Secara teknis, niat puasa Daud cukup dihadirkan dalam hati, namun diperbolehkan untuk dilafalkan secara lisan guna memantapkan tujuan ibadah semata karena Allah Ta'ala.

Artikel terkait

Rekomendasi