Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Yogyakarta Lapor Polresta

Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Yogyakarta Lapor Polresta
Foto: Ilustrasi Orang Tua Korban Daycare Little Aresha Yogyakarta Lapor Polresta.

Sejumlah orang tua mendatangi Mapolresta Yogyakarta untuk melaporkan dugaan kekerasan dan penelantaran anak yang terjadi di Daycare Little Aresha, Yogyakarta. Langkah hukum ini diambil setelah munculnya bukti rekaman video yang menunjukkan perlakuan tidak manusiawi terhadap balita di tempat penitipan tersebut.

Aksi pelaporan ini dipicu oleh temuan fakta bahwa anak-anak di bawah usia tiga tahun diduga mengalami pengikatan pada bagian tangan dan kaki. Dilansir dari Suara, para korban menuntut keadilan atas trauma fisik dan psikis yang dialami oleh anak-anak mereka selama dititipkan di lembaga tersebut.

Norman Widarto, seorang ASN di lingkungan Pemda DIY, mengungkapkan rasa terpukulnya setelah mengetahui perlakuan yang diterima buah hatinya. Ia menyebut anaknya telah dititipkan di fasilitas tersebut sejak masih berusia tiga bulan.

"Selama ini kalau ada luka di punggung atau bibir, pihak daycare selalu berdalih luka itu sudah ada dari rumah. Padahal setiap pagi saya mandikan anak saya, tubuhnya bersih tanpa bekas. Ternyata setelah melihat video, anak-anak di bawah tiga tahun itu diikat kaki dan tangannya, bahkan hanya dipakaikan popok tanpa baju," ujar Norman Widarto.

Norman menambahkan bahwa anaknya sering mengalami gangguan kesehatan serius selama berada di bawah pengawasan daycare. Hal ini mencakup penyakit pneumonia serta gangguan pada organ paru-paru yang juga ditemukan pada beberapa anak lainnya.

Penderitaan serupa disampaikan oleh Khairunnisa, orang tua yang baru menitipkan anaknya kurang dari satu bulan di tempat tersebut. Ia mengaku sangat sedih melihat bukti visual mengenai kondisi anaknya yang sangat memprihatinkan.

"Anak saya tidak diberi baju dan tangannya bukan dibedong, tapi diikat kencang. Di salah satu video yang tersebar, saya yakin itu anak saya. Saya menangis melihatnya," ujar Khairunnisa.

Sementara itu, Gusti Adi selaku orang tua korban lainnya memaparkan adanya dampak perilaku menyimpang pada anaknya. Ia mencurigai bahwa kebiasaan anaknya menirukan gerakan mengikat tangan adalah akibat dari pengalaman pahit di daycare.

"Efeknya bisa seperti itu, meski anak belum bisa menceritakan dengan jelas," ungkap Gusti Adi.

Kecurigaan Gusti semakin menguat setelah mendapati anaknya yang berusia delapan tahun masih sering mengompol. Berdasarkan hasil konsultasi dengan psikolog, kondisi tersebut merupakan indikasi adanya trauma mendalam akibat menyaksikan atau mengalami tindak kekerasan.

Artikel terkait

Rekomendasi