Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menyerahkan dua sertifikat tanah wakaf untuk pembangunan gedung pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (20/4/2026). Penyerahan dokumen legalitas lahan tersebut berlangsung dalam agenda Halalbihalal Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Indramayu.
Dilansir dari Kompas, lahan yang telah bersertifikat tersebut berlokasi di Kelurahan Karanganyar dengan luas 1.665 meter persegi dan Desa Segaran Kidul seluas 519 meter persegi. Proses sertifikasi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam memberikan kepastian hukum atas aset-aset keagamaan di daerah.
Ketua PCNU Indramayu, K.H. Muhammad Musthopa, memberikan apresiasi tinggi terhadap kinerja jajaran Kementerian ATR/BPN yang telah menuntaskan administrasi pertanahan tersebut. Pihaknya menyatakan rasa syukur atas selesainya seluruh rangkaian proses legalitas tanah wakaf untuk operasional organisasi.
"Alhamdulillah lega dan bahagia. Terima kasih saya ucapkan wabil khusus kepada Bapak Menteri ATR/Kepala BPN, Nusron Wahid dan ucapan terima kasih juga kepada BPN tingkat Provinsi Jawa Barat. Juga saya ucapkan terima kasih untuk Kepala Kantor Pertanahan BPN Kabupaten Indramayu yang meluangkan waktu untuk memproses sertipikat gedung NU secara sempurna," ujar K.H. Muhammad Musthopa.
Nusron Wahid dalam arahannya mendorong organisasi keagamaan tersebut untuk terus meningkatkan peran sosial dan ekonomi bagi masyarakat luas. Ia menekankan bahwa eksistensi organisasi sangat bergantung pada besarnya manfaat yang dirasakan oleh umat.
"Satu-satunya jalan NU harus memberikan kemanfaatan kepada umat manusia, dan segala sesuatu yang memberikan kebermanfaatan kepada manusia niscaya akan bertahan di muka bumi," tegas Nusron Wahid.
Menteri ATR/BPN tersebut juga merinci bahwa kontribusi nyata dapat diwujudkan melalui penguatan fasilitas kesehatan seperti klinik, pengembangan unit ekonomi, hingga peningkatan kualitas pendidikan tinggi. Hal ini dipandang krusial untuk mencetak generasi yang mandiri dalam menghadapi tantangan teknologi masa depan.
"Kalau kita ingin bertahan di muka bumi ini harus memberikan kebermanfaatan, bentuknya bukan lagi sekadar doa, tapi klinik atau rumah sakit, bikin BPR, dan output pendidikannya minimal STEM," tandas Nusron Wahid.