Raksasa perlengkapan olahraga Nike mengumumkan kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menyasar sekitar 1.400 staf di seluruh dunia pada Kamis (23/4/2026). Langkah ini berdampak signifikan pada berbagai lini organisasi perusahaan.
Dikutip dari Money, kebijakan pengurangan tenaga kerja tersebut difokuskan secara besar-besaran pada divisi teknologi. Keputusan ini diambil sebagai bagian dari implementasi strategi perusahaan bertajuk "Win Now" untuk mendongkrak performa bisnis.
Venkatesh Alagirisamy selaku COO Nike dalam memo internalnya menjelaskan bahwa transformasi ini bertujuan untuk menyederhanakan struktur organisasi. Perusahaan berencana melakukan perampingan pada tim teknologi dan memperbarui metode produksi lini Air.
Selain itu, Nike juga akan merelokasi sebagian operasional brand Converse. Integrasi pengelolaan material dengan tim manufaktur pakaian dan sepatu turut dilakukan demi menciptakan efisiensi kerja yang lebih baik di masa depan.
"Secara keseluruhan, perubahan ini akan mengakibatkan pengurangan sekitar 1.400 posisi di operasi global, dengan mayoritas berada di bidang teknologi," tulis Alagirisamy dilansir dari CNBC.
Pihak manajemen mengakui bahwa keputusan pahit ini memberikan beban emosional bagi internal perusahaan. Transisi ini dianggap perlu agar Nike tetap kompetitif dalam persaingan industri perlengkapan olahraga yang kian dinamis.
"Pengurangan ini sangat berat bagi karyawan yang terdampak maupun tim di sekitarnya," lanjutnya.
Juru bicara resmi Nike menegaskan bahwa restrukturisasi ini bukan sekadar pemotongan biaya. Strategi tersebut dirancang untuk membuat perusahaan lebih gesit dalam merespons tren pasar serta mempercepat laju pertumbuhan jangka panjang.
Kebijakan efisiensi ini menjangkau operasional Nike di wilayah Amerika Utara, Asia, hingga Eropa. Angka pemangkasan tersebut merepresentasikan kurang dari 2 persen dari total populasi pekerja Nike di seluruh dunia.
"Ini bukan arah baru, melainkan tahap lanjutan dari transformasi yang sudah berjalan," tambah Alagirisamy.
Proses pemberitahuan kepada para staf yang terdampak mulai dilakukan sejak Kamis waktu setempat. Langkah ini menjadi tantangan besar bagi CEO Elliott Hill yang sedang berupaya memulihkan kondisi finansial perusahaan setelah tren penurunan penjualan dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelum gelombang terbaru ini, Nike tercatat telah memangkas 775 posisi pada Januari lalu, terutama di pusat distribusi wilayah Amerika Serikat. Hal tersebut dilakukan seiring dengan percepatan program otomatisasi di fasilitas logistik mereka.
Upaya penyesuaian bisnis juga sempat terjadi pada musim panas tahun lalu yang berdampak pada kurang dari 1 persen karyawan korporat. Seluruh rangkaian PHK ini menjadi bagian dari target perusahaan untuk meraih profitabilitas yang lebih sehat.
Dalam laporan kinerja kuartal fiskal ketiga, Nike telah memberikan peringatan terkait potensi penurunan angka penjualan. Khusus di pasar China, perusahaan memproyeksikan terjadinya penurunan permintaan sekitar 20 persen pada periode kuartal berjalan.