Partai NasDem Bantah Isu Merger dengan Partai Gerindra

Partai NasDem Bantah Isu Merger dengan Partai Gerindra
Foto: Ilustrasi Partai NasDem Bantah Isu Merger dengan Partai Gerindra.

Anggota DPR RI Fraksi Partai NasDem, Arif Rahman, memberikan klarifikasi tegas terkait isu peleburan partainya dengan Partai Gerindra pada Senin (13/4/2026). Ia menyatakan bahwa spekulasi penggabungan dua kekuatan politik tersebut merupakan narasi yang tidak masuk akal dan cacat logika.

Sebagaimana dilansir dari Nasional, penegasan ini muncul setelah berkembangnya rumor yang mengaitkan kedekatan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Presiden terpilih Prabowo Subianto sebagai sinyal penggabungan partai. Arif menekankan bahwa hubungan personal yang harmonis tidak bisa ditafsirkan sebagai rencana penyatuan institusi.

"Kalau hubungan baik itu ditafsirkan sebagai peleburan, maka itu cacat logika," tegas Arif wartawan, Senin (13/4/2026).

Politisi tersebut menyatakan keberatannya atas asumsi bahwa partai yang telah dibangun selama 15 tahun akan dengan mudah dilebur hanya karena posisi di luar koalisi. Ia mengingatkan bahwa NasDem memiliki dasar perjuangan yang kuat sejak awal pendiriannya.

"Bagaimana mungkin Partai NasDem yang sudah didirikan 15 tahun lalu dan penuh pengorbanan harus dilebur hanya karena tidak menjadi bagian dari koalisi pemerintah? Ini di luar nalar," ucap Arif.

Dalam argumennya, Arif menjelaskan bahwa struktur partai politik berbeda dengan badan hukum komersial. Ia merujuk pada perolehan suara signifikan sebanyak 14.660.516 suara atau sekitar 9,6 persen pada Pemilu 2024 sebagai bentuk mandat rakyat yang harus dijaga.

"Partai NasDem bukan PT Tbk. Kami punya pertanggungjawaban terhadap rakyat yang memilih kami, sebanyak 14.660.516 suara atau 9,6 persen pada Pemilu 2024," paparnya.

Legislator dari Dapil Banten I ini juga mempertanyakan motif di balik munculnya isu tersebut di tengah publik. Ia mencurigai adanya upaya dari pihak tertentu untuk mendegradasi citra Partai NasDem melalui narasi pertemuan pimpinan partai yang sebenarnya terjadi pada Februari lalu.

"Pertemuan Pak Surya Paloh dan Pak Prabowo disebut terjadi pertengahan Februari, tapi kenapa baru diterbitkan sekarang? Ada motif apa di balik semua ini?" tanyanya.

Di sisi lain, Wakil Ketua Umum Partai NasDem Saan Mustopa turut menanggapi bahwa wacana semacam itu merupakan hal yang lumrah dalam dinamika politik nasional. Saan mengaku baru mengetahui pembicaraan tersebut setelah menjadi perbincangan hangat di ruang publik.

"Sekali lagi sebagai sebuah ide atau wacana, gagasan itu hal yang biasa saja," ujar Saan saat ditemui di Gedung DPR RI, Senin (13/4/2026).

Saan menambahkan bahwa dalam konteks partai politik, istilah yang lebih tepat digunakan adalah fusi dibandingkan dengan merger atau akuisisi. Namun, ia menekankan bahwa proses fusi melibatkan pertimbangan ideologi dan identitas partai yang sangat kompleks.

"Ketika mau diwujudkan, banyak hal yang harus dipikirkan. Terkait ideologi, identitas, eksistensi masing-masing partai," jelas Saan.

Artikel terkait

Rekomendasi