Kisah Nada Zahrah Bangun Kedai Rumahan demi Bantu Keluarga Viral

Kisah Nada Zahrah Bangun Kedai Rumahan demi Bantu Keluarga Viral
Foto: Ilustrasi Kisah Nada Zahrah Bangun Kedai Rumahan demi Bantu Keluarga Viral.

Seorang remaja berhijab berhasil menarik perhatian publik setelah membagikan perjuangannya membangun usaha kuliner dari hunian pribadinya. Kisah inspiratif tersebut mendadak viral di media sosial setelah diunggah melalui akun TikTok @zarabknjara.

Pemilik akun membuktikan komitmennya dengan mendirikan warung jajanan sederhana di area teras rumah, seperti dilansir dari Wolipop. Padahal, ia sempat mengira cita-cita memiliki tempat usaha sendiri hanya menjadi sebuah gurauan.

"Cita-cita gue pengen punya cafe sendiri, biar bisa ngopi terus, pokoknya kerja dulu nabung yang banyak, buka kedai terus jadi owner wkwk (khayalan gue di jam 12 malem ini mah)­ƒÿ¡­ƒÿ¡­ƒÖÅ," tulisnya dalam unggahan yang langsung mencuri perhatian netizen.

Proses merintis usaha dari titik nol tersebut diperlihatkan secara jelas melalui tayangan video. Aktivitas berdagang dimulai sejak pagi hari pukul 06.15 WIB dengan membersihkan halaman, menyusun meja kayu, memasang papan menu kapur, hingga menyiapkan segala peralatan pendukung jualan.

Warung yang dikelola di area rumah ini menyajikan beragam menu makanan dengan harga terjangkau bagi masyarakat. Konsumen dapat membeli seblak seharga Rp 6.000, burger seharga Rp 5.000, mi instan, hingga aneka minuman ringan senilai Rp 3.000 yang diberi taburan meses serta keju parut.

Tayangan video yang mendokumentasikan aktivitas harian mengelola tempat makan sederhana ini telah ditonton lebih dari 45 juta kali. Kolom komentar dipenuhi apresiasi dari warganet, bahkan sebagian di antaranya menawarkan bantuan berupa pembuatan celemek hingga spanduk daftar harga.

Remaja yang berada di balik video viral tersebut diketahui bernama lengkap Nada Zahrah, atau akrab disapa Zara (Rara). Gadis berusia 19 tahun asal Bekasi, Jawa Barat ini memikul beban tanggung jawab yang besar sebagai anak sulung dari tiga bersaudara.

Dalam kehidupan sehari-hari, Zara berstatus sebagai seorang karyawan di sebuah perusahaan. Dirinya memilih untuk memanfaatkan waktu libur kerja demi mengelola dan mengurus usaha kedai yang berada di rumahnya.

Kecintaan terhadap minuman kopi serta impian memiliki bisnis kuliner mandiri menjadi pemantik awal munculnya ide membuka tempat jualan tersebut.

"Kalau ide, karena aku suka kopi ya. Jadi ada cita-cita pengen buka cafe sendiri. Karena di tempat kerja aku ada pengalaman bikin kopi juga, dan di rumah aku kadang belajar lagi. Sebenarnya kalau untuk desain, logo, konsep cafe, aku udah punya semua. Jadi untuk sekarang aku buka cafe tapi kecil-kecilan dulu. One day mungkin nanti ada saatnya Allah mengizinkan aku buat punya cafe yang besar," ungkap Zara kepada Wolipop.

Langkah menjaga warung sengaja diambil untuk menggantikan posisi ibunya agar bisa beristirahat saat hari libur tiba. Tindakan ini memberikan kebahagiaan tersendiri bagi dirinya.

"Jadi biasanya kalau kerja aku lagi libur, aku yang pegang alih warung. Karena aku ngerasa mamaku kan udah capek setiap hari jaga warung. Nah mumpung aku libur, makanya aku bantuin beliau juga, kayak dari beres-beres buka warung sampai melayani customer," tuturnya.

Kedua orang tua memberikan dukungan penuh terhadap keputusan yang diambil oleh anak pertama mereka. Terlebih lagi, kondisi keuangan keluarga saat ini bertumpu pada hasil kerja keras Zara karena sang ayah sudah tidak bekerja.

Seluruh biaya kebutuhan hidup sehari-hari, tagihan listrik, hingga keperluan dapur dipenuhi melalui pendapatan dari gaji bulanan yang diterima oleh Zara.

"Mamaku tentu saja seneng ya, karena anaknya mau support dan bantu usaha orang tua. Kebetulan bapaku udah enggak kerja, jadi penghasilan buat makan, listrik rumah, dan lain-lain, itu ya mengharapkan gaji dari aku aja. Jadi kalau dibilang reaksi mamaku, pasti seneng banget, karena jarang-jarang ada anak yang mau ikut campur usaha orang tuanya," tambah Zara.

Dilema Generasi Sandwich

Menjalani profesi ganda sebagai pekerja kantoran sekaligus pelaku usaha mendatangkan situasi dilematis. Rasa bimbang sering melanda karena adanya keinginan fokus membesarkan warung, namun kebutuhan finansial memaksa untuk tetap mempertahankan kedua pekerjaan.

"Kesulitannya paling kalau aku lagi kerja, mama suka keteteran kalau lagi ramai pembeli. Kadang suka masih di tahap bimbang antara mau resign kerja terus fokus urus kedai aja, tapi kembali lagi ke penghasilan. Karena adik-adikku juga masih sekolah, kita juga masih banyak tagihan. Mau enggak mau aku masih harus jalanin keduanya, kerja sambil buka warung," ceritanya dengan jujur.

Meski rasa lelah sering datang dan beberapa orang menyarankan untuk melepaskan salah satu kesibukan, status sebagai anak pertama membuatnya tetap bertahan.

"Kalau dibilang 'udahlah Kak, enggak usah dijalanin dua-duanya kalau capek', hehe maaf Kak, enggak bisa kayaknya. Aku ini anak pertama sandwich generation, mau enggak mau harus berjuang buat keluarga," ujarnya.

Zara tidak menampik adanya rasa bingung dalam menentukan arah hidup akibat tidak memiliki sosok kakak sebagai tempat mengadu. Namun, ia mempunyai cara spiritual tersendiri guna menguatkan kondisi mentalnya.

"Because aku anak pertama, kadang bingung juga mau minta arahan ke siapa karena enggak punya kakak. Jadi cara aku menghadapinya cukup berdoa aja, modal bismillah, terus salat ibadah, berdoa minta kepada Allah dan ikhtiar terus," pungkasnya dengan nada optimistis.

Artikel terkait

Rekomendasi