Mutiara Rizka Ahmad Perjuangkan Hak Anak di KPAD Kota Bekasi

Mutiara Rizka Ahmad Perjuangkan Hak Anak di KPAD Kota Bekasi
Foto: Ilustrasi Mutiara Rizka Ahmad Perjuangkan Hak Anak di KPAD Kota Bekasi.

Makna peringatan Hari Kartini setiap 21 April bagi Mutiara Rizka Ahmad melampaui sekadar seremoni pakaian adat kebaya. Bagi Komisioner Bidang Kesehatan di Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi ini, esensi perjuangan hadir dalam aksi nyata melindungi anak-anak.

Dikutip dari Megapolitan, Mutiara mendedikasikan kesehariannya untuk mendengar dan menguatkan anak-anak yang terjerat persoalan rumit. Ia aktif menangani kasus kekerasan, pelecehan seksual, hingga memberikan pendampingan intensif bagi anak berkebutuhan khusus.

Peran tersebut dijalankannya di tengah tanggung jawab sebagai ibu dari dua anak. Meski sibuk merawat keluarga, ia tetap memilih terjun ke ranah sosial guna menyuarakan hak-hak anak yang sering kali terabaikan di masyarakat.

"Menjadi perempuan bukan lagi soal seberapa kuat kita bertahan. Tetapi seberapa dalam kita mampu merasakan, memahami, dan peduli dengan kondisi yang sekitar," ujar Mutiara kepada Kompas.com, Selasa (21/4/2026).

Pengalaman sebagai tenaga kesehatan membawa Mutiara bertemu dengan berbagai realitas kehidupan yang menyentuh hati. Ia melihat kekuatan harapan yang tetap menyala di tengah keterbatasan serta proses pemulihan luka fisik maupun batin pada anak-anak.

Salah satu momen yang paling membekas adalah interaksinya dengan komunitas anak-anak Down Syndrome. Di balik keceriaan mereka, Mutiara menangkap adanya beban kecemasan yang dipikul para orang tua terkait masa depan anak dengan keterbatasan.

"Ini yang membuat saya ingin terus dekat dengan anak-anak," ucapnya.

Empati yang mendalam ditemukan Mutiara dalam ruang-ruang pendampingan yang sederhana. Baginya, kehadiran fisik dan dukungan moral merupakan pilar penting bagi keluarga yang sedang berjuang menghadapi masa sulit.

Program edukasi yang ia kelola bukan dianggap sebagai beban kerja administratif semata. Kegiatan tersebut adalah panggilan nurani untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi pertumbuhan anak sesuai dengan keunikan masing-masing.

"Dari mereka, saya belajar tentang ketulusan. Tentang kesabaran yang tidak banyak bicara, tetapi terus bekerja dalam diam," ujarnya.

Manajemen waktu menjadi kunci utama bagi Mutiara agar peran domestik dan tugas publik dapat berjalan beriringan. Ia berkomitmen merawat buah hatinya di rumah sembari tetap berjuang bagi keselamatan anak-anak lain di luar sana.

"Saya mungkin tidak mampu mengubah dunia dalam satu langkah besar. Tetapi saya ingin membuat dunia seseorang menjadi lebih hangat," katanya.

Mutiara meyakini bahwa menjadi perempuan bermakna tidak perlu menunggu kondisi yang sempurna. Langkah kecil yang dimulai dari keberanian untuk peduli dapat menjadi inspirasi bagi perempuan lain untuk mengambil peran dalam perubahan sosial.

"Karena pada akhirnya, menjadi perempuan adalah tentang menjadi cahaya-cahaya yang mungkin tidak selalu besar, tetapi cukup untuk menerangi sekitar," tutur Mutiara.

Artikel terkait

Rekomendasi