Musyrif Diny Asrorun Niam Sholeh mengajak jemaah haji Indonesia untuk mendoakan Presiden Prabowo Subianto serta para pemimpin bangsa, seperti dilansir dari Cahaya.
Ajakan tersebut disampaikan menjelang puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina atau Armuzna. Langkah spiritual ini diharapkan menjadi ikhtiar untuk membawa Indonesia menjadi negara yang damai dan makmur.
"Jangan lupa mendoakan Presiden dan para pemimpin negeri untuk dapat memimpin dan membangun bangsa Indonesia dengan adil, bijaksana," kata Asrorun Niam Sholeh, dilansir dari laman MUI, Selasa (19/5/2026).
Menjelang pelaksanaan ibadah di Armuzna, jemaah juga diminta memperbanyak doa untuk kelancaran seluruh rangkaian ibadah, keharmonisan keluarga, serta kesejahteraan masyarakat.
"Berdoa kepada Allah SWT untuk kelancaran pelaksanaan ibadah haji, keluarga yang sakinah, dan masyarakat bangsa Indonesia yang damai dan sejahtera," ujar Asrorun Niam Sholeh.
Selain aspek spiritual, pemahaman mengenai tata cara ibadah menjadi perhatian penting. Pembimbing ibadah diminta untuk lebih intensif memberikan pembekalan fikih haji praktis kepada jemaah, yang mencakup syarat, rukun, wajib, larangan, serta amalan haji pada waktu dan tempat tertentu.
"Jangan hanya sekedar berangkat ke Tanah Suci tanpa membekali diri dengan ilmu manasik haji. Karena haji adalah ibadah mahdlah yang harus memenuhi syarat rukun serta ketentuan keagamaan," jelas Asrorun Niam Sholeh.
Menjaga Kebugaran Fisik dan Pemaknaan Tanah Haram
Kondisi kesehatan jemaah turut menjadi fokus utama menjelang fase puncak haji pada 8 sampai 13 Dzulhijjah. Jemaah diimbau mengonsumsi makanan sehat, beristirahat cukup, menjaga ketenangan pikiran, dan menghindari aktivitas yang terlalu menguras tenaga.
"Terutama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ibadah haji itu ada unsur ibadah jasmaniyah, ibadah fisik, karenanya butuh kebugaran. Di samping ibadah maliyah (karenanya butuh biaya) dan ibadah ruhiyah, mental spiritual," tutur Asrorun Niam Sholeh.
Ibadah haji juga dipandang sebagai momentum penting untuk melakukan muhasabah demi perbaikan diri, keluarga, dan negara.
"Perbaiki negeri mulai dari perbaiki diri sendiri. Etos haji adalah etos kesetaraan, kebersamaan, kejujuran dan kerja keras," kata Ketua MUI Bidang Fatwa tersebut.
Selama berada di Tanah Suci, jemaah dianjurkan untuk meningkatkan intensitas ibadah, zikir, serta menjaga salat lima waktu secara berjamaah.
"Shalat lima waktu berjamaah. Bagi yang sehat dapat ke Masjidil Haram dengan memanfaatkan fasilitas transportasi yang tersedia," ucap Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta tersebut.
Bagi jemaah yang memiliki uzur atau halangan, ibadah salat berjamaah tetap dapat dilaksanakan di masjid sekitar tempat tinggal. Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah, Depok, Jawa Barat ini menjelaskan bahwa seluruh pemukiman jemaah Indonesia berada di kawasan Tanah Haram yang memiliki keistimewaan, sehingga areanya tidak terbatas hanya di Masjidil Haram.