Ketua 2 Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang, Dr KH Ahmad SujaÔÇÖi Mughni, MM, menyampaikan pesan penting mengenai konsistensi beribadah dalam khutbah Jumat pada Selasa, 21 April 2026. Penekanan tersebut menyoroti urgensi mempertahankan kualitas iman dan amal saleh meskipun bulan suci Ramadhan telah berakhir.
Ahmad SujaÔÇÖi menekankan bahwa keberhasilan seorang Muslim dalam menjalankan ibadah selama satu bulan penuh bukan diukur dari berakhirnya masa puasa. Sebaliknya, indikator utama kesuksesan tersebut terlihat dari seberapa teguh seseorang menjaga nilai-nilai ketaatan dalam kehidupan sehari-hari setelahnya sebagaimana dilansir dari Cahaya.
"Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian." kutip KH Ahmad Suja'i Mughni, Ketua 2 MUI Kota Tangerang dari QS. Al-Hijr: 99.
Penjelasan tersebut menegaskan bahwa pengabdian kepada Tuhan tidak dibatasi oleh sekat waktu tertentu saja. Ibadah merupakan proses berkesinambungan yang seharusnya berlangsung sepanjang hayat manusia tanpa terputus oleh pergantian bulan.
"Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan terus-menerus meskipun sedikit." kata KH Ahmad Suja'i Mughni, Ketua 2 MUI Kota Tangerang menyitir hadis riwayat Bukhari dan Muslim.
Prinsip amaliah ini dianggap sebagai standar terbaik bagi umat Islam setelah melewati masa gemblengan selama Ramadhan. Ahmad SujaÔÇÖi mengingatkan agar umat tidak menjadi golongan yang hanya mengenal Tuhan pada saat bulan puasa saja, melainkan tetap giat beribadah sepanjang tahun.
"Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyusulinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang masa." ujar KH Ahmad Suja'i Mughni, Ketua 2 MUI Kota Tangerang mengutip hadis riwayat Muslim.
Sebagai panduan praktis, terdapat lima poin utama yang perlu diperhatikan dalam menjaga konsistensi ketaatan. Hal ini meliputi pemeliharaan shalat wajib dan sunnah, kelanjutan interaksi dengan Al-Qur'an melalui tilawah dan tadabbur, serta pelaksanaan puasa sunnah Syawal.
"Maka tetaplah engkau (Muhammad) di jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat bersamamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." papar KH Ahmad Suja'i Mughni, Ketua 2 MUI Kota Tangerang merujuk pada surat Hud ayat 112.
Istiqamah dalam ketaatan juga menuntut kedisiplinan dalam menjaga shalat malam dan sedekah secara rutin. Upaya tersebut merupakan ujian keimanan yang sesungguhnya untuk membuktikan apakah ibadah seseorang bersifat musiman atau telah menjadi karakter hidup yang melekat kuat.
"Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengenal Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan saja. Sesungguhnya orang saleh itu adalah mereka yang beribadah dan bersungguh-sungguh di sepanjang tahun." jelas KH Ahmad Suja'i Mughni, Ketua 2 MUI Kota Tangerang mengutip nasihat Al-Imam Bisyr al-Hafi.
Langkah konkret yang disarankan adalah dengan tidak membiarkan masjid menjadi sepi setelah Ramadhan berakhir. Umat diajak untuk menjadikan momen pasca puasa sebagai titik awal perubahan hidup menuju ketaatan yang lebih berkelanjutan dan penuh dengan nilai-nilai ukhuwah Islamiyah.