Strategi investasi untuk menghadapi peningkatan volatilitas pasar pada kuartal II-2026 mulai disiapkan oleh pelaku pasar modal. Langkah antisipasi ini menjadi krusial di tengah tekanan global yang dipicu oleh eskalasi geopolitik, lonjakan harga minyak dunia, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed.
Dikutip dari Investor Daily, PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai kondisi pasar saat ini dibayangi oleh konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Ketegangan tersebut mendorong harga minyak Brent menembus di atas US$ 100 per barel, meningkatkan inflasi global, dan memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama di AS.
Gejolak ini turut memicu kembalinya fenomena bond vigilante di pasar keuangan dunia. Kondisi tersebut ditandai oleh tingginya yield obligasi AS tenor 10 tahun yang berada di level 4,66% serta Inggris yang menembus di atas 5%.
"Kondisi tersebut membuat pasar global bergerak lebih hati-hati dan cenderung menghindari aset berisiko," ungkap Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Adityo Nugroho.
Dari dalam negeri, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pada level 4,75% dalam Rapat Dewan Gubernur Mei 2026. Proyeksi ini berbeda dengan konsensus pasar yang memperkirakan adanya kenaikan menjadi 5%.
Kebijakan pengetatan moneter yang agresif dinilai tidak lagi efektif untuk merespons tekanan struktural yang terjadi pada mata uang rupiah.
Sementara itu, tekanan di pasar saham domestik juga terus dicermati oleh para analis. Hingga pertengahan Mei 2026, Indeks Harga Saham Gabungan tercatat mengalami pelemahan sekitar 26% secara year-to-date yang dibarengi dengan kelanjutan aksi jual oleh investor asing.
Kendati pasar saham tertekan, peluang investasi dinilai masih terbuka lebar terutama pada sektor perbankan. Empat bank besar, yaitu BMRI, BBRI, BBCA, dan BBNI, dilaporkan tetap membukukan pertumbuhan laba yang positif.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) mencatatkan pertumbuhan tertinggi yang mencapai 18,8% secara tahunan.
"Valuasi sektor perbankan saat ini sudah berada di level yang cukup menarik secara historis," ujar Head of Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Martha Christina.
Selain emiten perbankan, sejumlah saham lain seperti ISAT, CMRY, JPFA, MIDI, ERAA, dan SCMA juga diproyeksikan memiliki potensi penguatan. Pergerakan harga saham-saham tersebut saat ini dilaporkan masih berada di bawah target konsensus pasar.
Menyikapi volatilitas yang tinggi, pelaku pasar disarankan untuk menerapkan strategi investasi defensif melalui diversifikasi portofolio yang ketat. Peningkatan porsi instrumen berisiko rendah seperti Reksa Dana Pasar Uang menjadi salah satu opsi aman di samping tetap selektif memilih saham berfundamental kokoh.