Militer AS Kerahkan Robot Bawah Laut Bersihkan Ranjau Selat Hormuz

Militer AS Kerahkan Robot Bawah Laut Bersihkan Ranjau Selat Hormuz
Foto: Ilustrasi Militer AS Kerahkan Robot Bawah Laut Bersihkan Ranjau Selat Hormuz.

Angkatan Laut Amerika Serikat mengerahkan armada drone laut dan sistem robotik canggih untuk membersihkan ancaman ranjau di perairan Selat Hormuz pada Senin, 20 April 2026. Langkah tersebut diambil guna mengamankan jalur distribusi yang mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Penggunaan kombinasi sistem berawak dan tak berawak ini bertujuan untuk memindai keberadaan ranjau yang berpotensi memblokir jalur pelayaran sempit tersebut, sebagaimana dilansir dari Detik iNET yang mengutip laporan Wall Street Journal. Operasi penanggulangan ranjau ini diprioritaskan untuk membuka kembali rute logistik internasional.

Seorang pejabat pertahanan Amerika Serikat menyatakan bahwa upaya ini merupakan bagian dari operasi militer strategis. Analis militer menjelaskan bahwa kendaraan bawah air tak berawak dapat melakukan pemindaian dasar laut secara cepat sebelum robot khusus dikirim untuk menghancurkan ranjau yang terdeteksi.

Mantan Laksamana Angkatan Laut Amerika Serikat, Kevin Donegan, memberikan penilaian optimis terkait durasi operasi pembersihan tersebut. Penggunaan teknologi robotik dinilai mampu mempercepat proses survei jalur pelayaran yang menjadi titik krusial perdagangan energi global.

"jalur pelayaran kecil dapat disurvei dalam hitungan hari menggunakan sistem semacam itu." ujar Kevin Donegan, Mantan Laksamana Angkatan Laut AS.

Pengerahan alutsista otomatis ini berlangsung di tengah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pihak Teheran menyatakan penolakan terhadap pemulihan lalu lintas normal di selat tersebut kecuali pemerintah Amerika Serikat mencabut blokade ekonomi terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Iran.

Sebelumnya, Iran sempat membuka akses Selat Hormuz pasca gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah yang sempat memberikan sentimen positif bagi stabilitas harga minyak dunia. Namun, kebijakan itu dibatalkan sehari kemudian dengan peringatan agar kapal-kapal menjauhi jalur utama karena adanya risiko ranjau.

Iran diduga telah menyebar ranjau jenis Maham 3 dan Maham 7 yang memiliki teknologi sensor magnetik serta akustik modern. Maham 3 merupakan ranjau jangkar seberat 300 kg untuk kedalaman 100 meter, sedangkan Maham 7 adalah ranjau dasar laut seberat 220 kg dengan desain kerucut untuk menghindari deteksi sonar.

Artikel terkait

Rekomendasi